• Proyek EDP Aedes Aegypti Ber-Wolbachia

SLEMAN– Bupati Sleman Sri Purnomo mengimbau agar proyek pelepasan nyamuk di wilayah Gamping ditangguhkan. Terutama di kawasan yang mendapat penolakan dari warga. Itu demi menjaga kondusivitas lingkungan agar tetap nyaman, aman, dan tenteram.Sri mengakui tujuan dari penelitian tersebut hakekatnya baik. Yakni mengendalikan peredaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) akibat gigitan nyamuk aedes aegypti. Namun, Sri tidak ingin proyek tersebut justeru brakibat perpecahan di antara warga. Sebab, ada warga yang menerima maupun menolak program tersebut. “Saya hargai semua pendapat. Baik yang menolak atau menerima proyek itu. Masing-masing tentu punya alasan,” katanya.Sri menjelaskan, Kecamatan Gamping menjadi sasaran lokasi penelitian lantaran kasus DBD di kawasan tersebut cukup tinggi. Sementara, proyek UGM sudah lama dilakukan. Bahkan sosialisasi dilakukan sejak 2011. Nah, tahun ini masuk tahap pelepasan nyamuk.Sri mengatakan, proyek tersebut telah memperoleh izin dari provinsi. Jadi, Pemkab Sleman hanya menindaklanjutinya. “Tapi dengan catatan hanya di tempat yang warganya sudah siap,” ingat Sri.Data Dinas Kesehatan Sleman menunjukkan pada 2013 terjadi 736 kasus DBD. Sebanyak 133 kasus atau 18 persennya terjadi di Gamping.Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Novita Krisnainimenyatakan, hingga 21 Januari 2014 telah terjadi 13 kasus. Satu di antaranya di Gamping. Sisanya menyebar di Mlati, Godean, Ngemplak, Ngaglik, dan Kalasan. “Selama ini memang belum ada metode baru pengendalian nyamuk,” ungkapnya.Menurut Novita, upaya yang dilakukan untuk menekan populasi nyamuk sebatas gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Sedangkan pengasapan (fogging) sudah tak disarankan karena bisa mengganggu pernapasan. (yog/din)Sosialisasi EDP BuntuWarga Sepakat Tolak Nyamuk
SLEMAN– Sosialisasi ulang oleh pihak UGM terkait rencana pelepasan nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia pada lingkungan warga di Karangtengah, Nogotirto, Gamping pada Minggu malam (26/1) menemui jalan buntu.Sebagian besar warga bersikap apatis. Bahkan, beberapa di antara audien meninggalkan lokasi sosialisasi di Balai Desa Nogotirto, sebelum acara usai.Warga justru mengecam penelitian yang akan dilakukan oleh tim peneliti Eliminate Dengue Project/EDP Jogjakarta, yang merupakan kerjasama Fakultas Kedokteran UGM dengan Yayasan Tahija dan Universitas Monash Australia.Sekitar 180 warga dari semua RT di Karangtengah beramai-ramai mencabut surat persetujuan pelepasan nyamuk UGM.Berkas pernyataan tersebut diserahkan kepada peneliti utama EDP, dr Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D, disaksikan pejabat kecamatan dan desa setempat. “Kami tidak mau hanya dijadkan kelinci percobaan,” ungkap Ahmad Ma’ruf, salah seorang warga, kemarin (27/1).Isi surat tersebut intinya mencabut keterangan persetujuan yang pernah diberikan oleh warga kepada pihak UGM, sekaligus menolak pelepasan nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia.Menurut Ahmad, rencananya, peneliti bakal melepas nyamuk sebanyak 50 ekor per jarak 25 meter selama 20 pekan.Dengan begitu, Ahmad mengklaim mulai kemarin (27/1), surat persetujuan pelepasan nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia yang ditandatangani warga beberapa waktu lalu batal dan tidak dapat digunakan untuk kepentingan apapun oleh pihak EDP Jogjakarta.Bahkan, warga secara terang-terangan menyatakan menunggu respon UGM. “Mereka akan membatalkan Karangtengah sebagai kelinci percobaan nyamuk yang atau tetap akan melepas,” katanya.Menurut Ahmad, warga telah mengantisipasi segala kemungkinan. Warga akan mengusir petugas jika pihak UGM tetap memaksakan melaksanakan proyek tersebut.Saat sosialisasi, Sukarman, warga lain, membacakan surat kesepakatan warga yang menolak proyek pelepasan nyamuk. Usai surat dibaca, aplaus dari warga membahana sebagai tanda setuju.Pak Muji, sesepuh dusun setempat, mengungkapkan bahwapenolakan warga dilandasi tidak adanya jaminan kenyamanan dan keamanan yang dari UGM terkait proyek tersebut. Juga tidak ada kontrak tertulis tentang jaminan atas risiko dari pelepasan nyamuk.(yog/din)