HAMPIR genap tiga tahun merajut kasih, Novia Purnamasari dan Stefanus Prayogo mantab melangkah mengikat janji suci pernikahan. Kuatnya cinta dan keyakinan mereka sebagai belahan jiwa, terlebih mengalirnya restu kedua orang tua tidak lagi membuat keduanya menunda waktu. Sempat terhalang jarak dan melakoni Long Distance Relationship (LDR), justru mendewasakan keduanya dengan saling percaya.Awal bertemu di sebuah acara gereja di Jakarta pada Februari 2011, keduanya merasakan kenyamanan satu dengan yang lain. Meskipun berada jauh, Novia tinggal di Jogja dan Stefanus menetap di Jakarta tidak menghalangi keduanya untuk mengerti kekurangan dan kelebihan masing-masing. Menuju tiga tahun masa berpacaran, pertemuan keluarga besar dilakukan. Hingga akhirnya diputuskan tanggal 26 Januari 2014 merupakan hari baik untuk keduanya meresmikan diri sebagai sepasang suami istri. “Orang tua inginnya makin cepat makin baik, lalu kita ambil tengahnya di awal tahun ini,” ujar Stefanus disela-sela persiapan pernikahan.Keduanya mengaku, saat menuju hari H menjadi hari-hari menegangkan seumur hidup. Bahkan hari terasa cepat berganti. Setelah tanggal pernikahan sudah diputuskan, sekitar bulan September 2013 keduanya dibantu wedding organizer (WO) mempersiapkan segala sesuatunya.Meskipun dibantu oleh WO, namun Novia tetap mengontrol dan melakukan pengecekan. Mulai dari gedung hingga detail soal busana dan make-up. Menurutnya untuk gedung pilihan di Jogja memang bisa dihitung jari, dan semua penuh. “Baru kita sadar The Kasultanan Ballroom ini sudah siap pakai. Makanya tiap kita lewat dari tahun lalu kita selalu perhatikan perkembangannya. Hingga fix gedung ini siap dan menampung seribuan tamu yang kita undang,” papar Novia.Usai prosesi misa pernikahan di pagi hari, kedua mempelai meluapkan kebahagiaan mereka bersama orang tua, keluarga, saudara dan handai taulan di Kasultanan Ballroom Hotel Royal Ambarrukmo Jogjakarta, Minggu (26/1) malam. Rona bahagia dan senyum tak hentinya mengembang dari keduanya.Akulturasi BudayaMengusung konsep ‘Living Room’ dengan nuansa serba cokelat dengan banyak menampilkan elemen kayu. Novia dan Stefanus seakan ingin membawa para tamu yang hadir dalam sebuah ruang tamu besar yang nyaman dan hangat. Nuansa hangat dan ramah ini membalut nuansa western yang menjadi tema busana malam itu.Ingin menjamu tamu seperti di rumah sendiri, di bagian depan para tamu undangan juga bisa menikmati booth yang ada seperti foto booth dan mengambil cokelat keberuntungan di pohon keberuntungan. Di bagian dalam pohon-pohon Sakura juga memberikan kesan ceria yang berbeda.Dengan ukuran 60x25m dan ketinggian atap 10 meter dilengkapi pre function out door dan indoor yang luas. Serta escalator, lift untuk VIP, dan loading lift yang luas berstandar internasional, keduanya berbagi kebahagiaan bersama tamu undangan yang hadir.Dibesarkan di dua keluarga yang masih memegang dan melestarikan tradisi Tiongkok, di hari bahagia keduanya tak melupakan. Meski keduanya besar di zaman yang sudah modern dan dijejali gelombang budaya barat. Siang harinya, mereka melakukan upacara tea pay atau tradisi minum teh sebagai tanda penghormatan buat orang-orang yang dituakan. “Kita menjamu teh bagi orang-orang yang dituakan, untuk mengenalkan pasangan pengantin kepada kedua pihak keluarga. Sebagai doa restu juga dari mereka dan berkah dengan memberikan angpao atau hadiah,” papar Novia.Di hari bahagia sekali seumur hidup, Novia yang putri pasangan Edy Ismanto dan Indrawati Suwito dan Stefanus yang putra dari pasangan Lim Sun Hin dan Tjioe Ong Hon juga membuat kejutan bagi keluarga dan tamu undangan. Di hari kedua mereka mengenakan busana adat Jawa. “Kita ingin sesuatu yang beda, saat resepsi untuk karyawan Medan Jaya Grup kami mengenakan busana pengantin adat Jawa,” ujar Novia. (dya/adv)