EKSTREM: Seminar “Menyikapi Indonesia Darurat Bencana” di kantor Pusat Studi Bencana (PSB) UGM, Selasa (28/1).
SLEMAN – ‪Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta, Tony A Wijaya mengaku pihaknya semakin sulit memprediksi ketepatan kondisi cuaca di suatu daerah. Penyebabnya adalah perubahan pola arah angin dan kondisi geografis yang mengakibatkan kejadian cuaca ekstrem. “Cuaca ekstrem ini lebih besar frekuensinya dan perubahannya yang terjadi sangat cepat sehingga cuaca sulit ditebak dari sisi tempat dan waktu. Meski begitu 70 sampai dengan 80 persen prediksi BMKG tepat,” kata Tony dalam seminar Menyikapi Indonesia Darurat Bencana di kantor Pusat Studi Bencana (PSB), Selasa (28/1).Bencana banjir yang terjadi di sejumlah daerah seperti di kawasan Pantura, Jawa Tengah, kata Tony, disebabkan tingginya curah hujan yang turun. Adanya pertemuan arah angin mengakibatkan uap air lebih banyak terkumpul.Hal ini diperparah dengan badai tropis di sekitar Australia, sehingga beberapa daerah di tanah air terkena dampaknya.Menurut Tony, Keunikan posisi geografis menambah kompleksitas prediksi iklim cuaca. Meski BMKG memperkirakan kondisi cuaca di Indonesia sepanjang tahun ini tidak terpengaruh Badai El Nino dan La Nina, perubahan pola arah angin dan persebaran awan, justru mempengaruhi jumlah curah hujan yang turun di suatu daerah.”Itu tantangan bagi kami dari penyimpangan anomali cuaca. Yang harus diperhatikan adalah antisipasi dan kewaspadaan semua pihak,” jelasnya.Sementara itu Peneliti dari PSB UGM, Sunarto mengatakan, bencana banjir yang melanda beberapa daerah di Indonesia lebih disebabkan banyak faktor. Maka dari itu melibatkan masyarakat guna memperdalam serta mengembangkan pengetahuan lokal sangat penting dilakukan. “Karakter bencana banjir ini biasanya terjadi pada daerah yang berada di dataran rendah. Bahkan daerah-daerah yang dahulu merupakan kawasan aliran sungai dan rawa,” jelasnya.Hal itu, ujar Sunarto, bisa diketahui berdasarkan asal-usul nama dari setiap daerah tersebut. Selain itu peta geologi dan geomorfologi suatu wilayah dapat dijadikan acuan untuk mengetahuinya.Untuk mencegah timbulnya korban jiwa, Sunarto mengatakan, kesiapsiagaan pemerintah dan masyrakat dalam penanggulangan bencana sangat diperlukan.Menurut Sunarto, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi bencana banjir adalah dengan membangun embung maupun bendungan. Hanya saja pembangunan embung dan bendungan harus dilaksanakan secara matang guna menghindari kerusakan seperti bocor maupun jebol. “Untuk pembangunan antisipasi bencana seperti ini jangan sampai dikorupsi. Sebab beberapa embung dan bendungan yang bocor jebol ini diakui akibat kesalahan teknis dalam pengerjaan pembangunan yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan,” jelasnya. (bhn/iwa)