JOGJA – Konsumsi BBM jenis solar di DIJ selama 2013 lalu,melampaui kuota. Berdasarkan data dari PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region IV area Jawa Tengah dan DIJ, konsumsi solar bersubsidi wilayah ini mencapai 128.976 kiloliter. Sementara jatah solar bersubsidi yang ditetapkan pada 2013 sebanyak 118.457 kiloliter. Menurut Sales Representatif Pertamina DIJ Fanda Crismianto, konsumsi yang melebihi kuota ini sebelumnya sudah diperkirakan. Menurut dia prediksi pertumbuhan konsumsi bahan bakar bersubsidi tiap tahunnya berkisar 10 persen, sedangakn penambahan kuota solar subsidi pada 2013 hanya 1,7 persen dibanding 2012 lalu. “Tiap tahun pertumbuhan kendaraan kan juga masif,” ujarnya kemarin (27/1). Berbeda dengan solar, untuk konsumsi BBM jenis bensin justru berada dibawah kuota yang ditetapkan. Alias aman. Dirinya menjelaskan kuota premium 2013 untuk DIJ sebanyak 549.718 kiloliter, sedangkan konsumsinya hanya 540.162 kiloliter. Sehingga masih ada sisa kuota premium 9.556 kiloliter pada tahun lalu. “Kalau kuota premium 2013 memang ditambah 11,2 persen dari 2012,” ungkap Fanda.
Sedangkan untuk kuota BBM bersubsidi pada 2014 ini belum ditetapkan. Menurut Fanda, biasanya kuota tersebut baru ditetapkan pada akhir Februari atau awal Maret nanti. Meskipun begitu, dirinya meyakini kemungkinan kuota premium dan solar untuk DIJ tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan kuota yang ditetapkan pada 2013 lalu.
Selain itu untuk memaksimalkan pemakaian BBM bersubsidi, pihaknya juga terus melakukan pengawasan penyaluran konsumsi BBM bersubsidi. Salah satunya lewat teknologi RFID(radio frequency and identification). Melalui teknologi RFID ini nantinya pengawasan bisa by sistem, hanya yang berhak mengkonsumsi BBM yang bisa mengisi. “Selama ini kan masih mengandalkan operator di lapangan,” tuturnya. RFID sendiri pada awalnya dijadwalkan masuk ke DIJ pada pertengahan tahun ini. Tetapi hal itu dipastikan tertunda. Kondisi tersebut disebabkan masih menunggu selesainya pemasangan RFID di Jakarta dan sekitarnya. RFID ini akan difokuskan pada wilayah Jawa dan Bali, dimana wilayah tersebut mengonsumsi BBM paling besar. “Dengan RFID ini bisa mengontrol penggunaan BBM bersubsidi,” tuturnya.(pra)