MERUGI: Lahan pertanian di Kulonprogo yang terendam air dikhawatirkan mengganggu hasil panen.
WATES – Dalam kurun waktu dua bulan terakhir curah hujan di wilayah DIJ cukup tinggi, tak terkecuali di Kulonprogo yang notabene banyak lahan pertaniannya. Banyak lahan pertanian yang terkena genangan banjir, tentu hal tersebut berdampak pada kemunduran panen.Ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) Sogan, Wates, Kulonprogo, Margiono mengatakan, melihat kondisi seperti itu maka bisa diprediksi akan terjadi kemunduran panen. Sebab, jika dihitung secara matematis maka Musim Tanam (MT) I di wilayahnya mundur. Seharusnya bisa dipanen pada awal Februari 2014.”Perhitungan awal bahwa Februari bisa dipanen. Ketika melihat kondisinya semacam itu, prediksi baru bisa panen pada akhir Februari,” kata Margiono, kemarin (28/1).Adapun untuk produksi MT I di beberapa lokasi mengalami kemunduran panen sampai 15 persen, dengan total lahan yang terkena genangan banjir seluas 139 hektare. Data itu tercatat di Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertanhut) Kabupaten Kulonprogo. Genangan itu seperti terjadi di tiga wilayah, yaitu Kecamatan Wates, Panjatan, dan Temon.Margiono mengatakan, selain dipengaruhi curah hujan tinggi, kemunduran panen juga disebabkan banyak induk padi yang mati karena tergenang banjir. Kondisi ini berpengaruh pada produksi padi di wilayahnya. Padahal rata-rata untuk satu hektare lahan pertanian bisa menghasilkan sekitar tujuh ton padi, namun untuk saat ini diprediksi hanya sekitar lima sampai enam ton saja.Meski bisa diprediksi hasil panen menurun, masyarakat masih bisa memanfaatkan lahan pertanian yang kering. Untuk lahan tanah dengan karakter seperti itu, biasanya sangat cocok jika ditanami padi jenis gogo.Sementara itu Kepala Dispertanhut Kulonprogo, Bambang Tri Budi Harsono menambahkan, pihaknya sepakat dengan anggapan jika genangan air di lahan pertanian bisa menghambat pertumbuhan tunas padi. Sehingga jika sudah demikian, pengaruhnya pada produktivitas padi.”Tetapi berdasarkan pantauan petugas di lapangan penurunan produksi maksimal 10 persen,” kata dia.Kemudian, jika dianalisa dari curah hujan yang tinggi sehingga menggenangi lahan pertanian, maka juga berdampak pada perkembangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang berjenis Bacterial Leaf Blight (BLB). Biasanya bakteri jenis itu menyerang batang tanaman padi.Kendati demikian, OPT sendiri hanya menyerang per spot, artinya tidak melakukan serangan menyeluruh. Untuk mengatasi serangan bakteri itu, pihaknya juga telah melakukan antisipasi menggunakan pestisida jenis nordok.Meski genangan air dan OPT di lahan pertanian berdampak pada produktifitas, hal itu tidak menghambat target produksi tani di 2014. Untuk wilayah Kulonprogo jumlahnya kecil dibandingkan dengan total luas tanaman.”Jumlah luasan kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan luasan tanam pada tahun ini,” kata Bambang. (fid/iwa)