Pagi Ini Sambung Rasa Bagi Ilmu di Waduk Sermo
WATES – Semangat para penderes gula semut (gula aren, gula dari pohon kelapa, red) untuk meningkatkan derajad hidupnya betul-betul mengundang perhatian Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Pagi ini (29/1), pria yang lahir di Palembang 18 Desember 1953 itu bakal bersambung rasa bagi ilmu dengan sekitar 1.500 pemanjat pohon yang setiap hari naik turun sekitar 10-15 pohon itu. Tepatnya di Objek Wisata Waduk Sermo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo, Jogjakarta. “Mereka adalah pejuang-pejuang yang setia dengan mata pencahariannya. Karena itu, mereka harus terus maju dan berkembang, serta menaikkan taraf hidup dan kesejahteraannya dengan usaha,” ucap Hatta. Dalam acara hari ini itu Hatta akan didampingi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Wagub DIJ Sri Paduka Paku Alam IX, dan Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo.Hatta yang berlatar belakang pengusaha itu menangkap ada banyak ide untuk mengembangkan usaha mereka. Tidak hanya memungut nira di atas ketinggian 10-12 meter di puncak pohon kelapa. Tetapi, juga mengolah, mengemas, sekaligus memasarkan dengan baik.Dengan sentuhan teknologi, ilmu pengetahuan, dan akses permodalan, mereka bisa mendapatkan value yang lebih maksimal dari yang dikerjakan sekarang. “Yang penting, mereka tetap semangat untuk menjaga agar produk nira yang dihasilkan betul-betul organik,” tutur Hatta yang juga Ketua Umum DPP PAN itu.Pekerjaan penderes yang sarat risiko itu, lanjut Hatta, memang bukan pilihan utama. Tetapi mungkin, itu terpaksa dilakukan karena belum menemukan pilihan lain. Memanjat secara tradisional, tanpa alat pengaman, tanpa jaminan asuransi kecelakaan, tanpa henti, sehari dua kali tiap pagi 06.00 sampai 09.00 dan sore 16.00 hingga 17.00 memang pekerjaan yang cukup keras.Jika rata-rata memanjat 10 pohon saja, maka naik turun panjat pohon kelapanya sudah 20 kali.Seperti diketahui, hampir setiap tahun ada saja korban meninggal atau cacat seumur hidup gara-gara jatuh dari pohon kelapa. Dan, mereka tidak dijamin oleh BPJS. Ini karena sebagai buruh deres maupun petani penderes, mereka rata-rata tidak sanggup membayar premi asuransi yang mulai 2014 sudah menjadi badan pemerintah di bawah presiden itu.Belum lagi pada saat hujan? Atau musim hujan, pagi atau sore turun hujan. Mereka menghadapi kendala pekerjaan yang berat. Lebih licin, lebih rawan terpeleset, rawan jatuh, dan rawan tersambar petir. Apalagi pohon kelapa itu rata-rata tumbuh tinggi, dengan satu batang (monokotil) yang menonjol di antara pepohonan lain.Di balik sulitnya menderes itu, sejatinya bisnis gula semut memiliki prospek yang baik dan terbuka bagi agro industri. Gula semut itu diproses menjadi brown sugar, gula cokelat, mirip gula pasir yang berwarna merah. Tetapi berbeda dengan gula merah yang sering dipakai oleh orang Jogja-Solo untuk campuran pemanis sayuran. Mereka menyebut gula semut, karena ketika diolah, dipanaskan, dikeringkan, sehingga kadar air tinggal 2-3 persen saja. Maka warnanya menjadi cokelat dan bentuknya mirip rumah semut.Lalu apa yang dibutuhkan? Ada sumberdaya alam atau pohon kelapa, milik warga. Ada sumber daya manusia (penderes). Ada koperasi, kelompok usaha, yang bisa mengepul, marketing dan menyalurkan ke pabrik pembeli. Ada pendanaan yang bisa diakses, dan pangsa pasar. “Ini yang nanti kita bisa share ilmu,” sahut Hatta yang pernah menjabat sebagai Mensesneg (2007-2009), Menteri Perhubungan (2004-2007), Menteri Negara Riset dan Teknologi (2001-2004) itu.Mereka pernah menerima bantuan BI, berupa Gudang penyimpanan produk gula semut, yang mampu menyimpan 180 ton. Tetapi, gudang itu masih minim peralatan, jadi tidak bisa dipakai untuk stok gudang. Gula semut, adalah hasil pengolahan dari gula yang telah dicetak. Caranya, gula merah yang dicetak itu dihaluskan menjadi lembut. Kemudian tepung gula ini dimasukkan ke dalam oven sehingga tercipta kristal-kristal gula merah yang oleh warga acap dinamai gula semut.Gula seperti rumah semut. Harga jual gula semut per kilogram, saat ini Rp 22 ribu. Sedang harga gula merah hanya Rp 15 ribu. Velue menjadi gula semut jauh lebih besar dibandingkan dengan gula merah. Memang produksinya satu level lebih sulit, tetapi rata-rata petani dan penderes sudah bisa membuatnya. Gula Kulonprogo ini banyak dieksport ke USA dan Australia melalui pihak ketiga. Permintaan ekspor 1.500 ton per tahun, sedang supplay-nya baru memenuhi 90 ton per tahun. Masih sangat terbuka. Pasar dalam negeri saja sudah 400 ton per tahun. “KUR (Kredit Usaha Rakyat) juga bisa mendorong ibu-ibu, istri penderes untuk berusaha apa saja yang memiliki prospek untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka,” kata Hatta. (*)