JOGJA – Museum Sandi pindah lokasi. Museum yang menyimpan berbagai arsip terkait sandi itu kini menempati gedung bekas kantor Badan Perpustakaan Arsip Daerah di Kotabaru Jogja.
Peresmian gedung anyar untuk Museum Sandi itu dilakukan Gubenur DIJ Hamengku Buwono X kemarin (29/1). Kepala Museum Sandi, Samproni Sangadi mengatakan, persemian gedung baru tersebut sekaligus sebagai wahana edukasi bagi pelajar dan masyarakat.
Menurutnya, sebelumnya Meseum Sandi menempati gedung Museum Perjuangan. Dengan menempati gedung bekas perpusatakan di Jalan Faridan Muridan Noto 21 Kotabaru Jogja diharapkan mampu menyedot lebih banyak pengunjung.
Ditargetkan ada sekitar 600 pengunjung setiap bulan. “Kami menambah koleksi dari tahun sebelumnya hanya 32 koleksi saat ini menjadi 35 koleksi,” ucap Samproni.
Menurutnya, koleksi yang ada yakni tentang sejarah sandi di Indonesia. Mislanya, koleksi berupa mesin sandi dari berbagai seri. Mesin sandi itu pernah digunakan saat masa penjajahan. Salah satunya adalah mesin C52.
“Perlu diingat pengunjung tidak dipungut biaya masuknya gratis,” katanya.
Museum Sandi buka Senin hingga Jumat. Tapi, pada Sabtu dan Minggu museum akan dibuka jika ada pengunjung yang datang.
Gubenur HB X mengatakan, keberadaan Museum Sandi menambah pengetahuan tentang persandian. Diakuinya, sandi merupakan sistem yang vital dan strategis dalam keamanan sebuah negara.
Sistem sandi, ujarnya, perlu terus ditingkatkan di tengah kemajuan teknologi saat ini. “Termasuk tantangan yang harus dihadapi informasi suatu negara ke negara lain perlu pengamanan sistem sandi yang maksimal,” katanya.
Kepala Lembaga Sandi Negara Mayjen Djoko Setiadi mengatakan, gedung Museum Sandi yang kini berada di lokasi strategis tersebut tidak lepas dari peran Pemprov DIJ. Dia menegaskan, lembaganya berkomitmen membangun persandian nasional sebagai bentuk pengamanan informasi pemerintah.
“Negara perlu sistem sandi perlu ditingkatkan,” paparnya. (hrp/amd)