JOGJA – Terus memberdayakan perekonomian di daerah perbatasan RI dengan Papua New Guinea (PNG), Bank Indonesia melakukan penandatanganan MoU dengan Bank Sentral PNG. Dengan adanya MoU ini diharapkan makin memperkuat perdagangan dan perekonomian di wilayah perbatasan.MoU antara BI dengan Bank Sentral PNG ini sendiri merupakan kelanjutan dari MoU yang sudah dilaksanakan sejak 1996 silam. MoU kali ini juga terus diperbarui, disesuaikan dengan kondisi terakhir di wilayah perbatasan RI dan PNG. Penandatanganan MoU kali ini diadakan di Hotel Tentrem kemarin (29/1).Deputy Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas menjelaskan selama ini di wilayah perbatasan RI dengan PNG, dominan menggunakan rupiah sebagai alat pembayaran. Meskipun begitu, masyarakat PNG yang akan bertransasksi di RI akan menukarkan Kina ke rupiah terlebih dahulu. “Itu yang diperjanjikan, bagaimana mekanisme kembalinya rupiah yang ada di PNG dan juga sebaliknya,” jelasnya.Menurut Ronald biasanya kina masuk ke RI selain melalui perdagangan juga dari valuta asing. Tetapi, saat ini di wilayah perbatasan, khususnya di wilayah Sota dan Skouw, hanya terdapat dua tempat penukaran uang. Untuk itu pihaknya berharap, kedepan bisa ditambah lagi money changer di wilayah perbatasan RI dan PNG. “Harapannya kedepan industri perbankan juga bisa masuk,” jelasnya.Hal itu, lanjut dia, akan memudahkan masyarakat di sana untuk bertransaksi. Selama ini masyarakat di perbatasan RI dan PNG tersebut kebanyakan menggunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ekonomi juga bisa makin berkembang. Satu kina saat ini setara dengan sekitar Rp 4.000. Nantinya masyarakat di perbatasan juga bisa makin produktif. “Batik Papua, garmen atau perabot bisa dijual,” ungkapnya.Direktur Executive Departemen Pengelolaan Uang BI Lambok Antonius Siahaan menambahkan masyarakat di perbatasan menggunakan rupiah sebagai alat pembayaran merupakan keharusan di NKRI. “Hal ini penting bagi kedaulatan NKRI,” terangnya.Terpisah, Deputy Gubernur Bank Sentral PNG Benny Popoitai menyatakan MoU ini penting untuk kegiatan perdagangan di perbatasan kedua negara. MoU ini menjadi tonggak kerja sama dua Bank Sentral masing-masing negara. “Termasuk dalam mengelola perdagangan di wilayah perbatasan,” ujarnya. (pra/ila)