SUPAYA PAHAM: Kepala Kantor Pertanahan Gunungkidul memberikan penyuluhan legalisasi aset prona dan lintas sektor tahun anggaran 2014 kepada kepala desa di kantor setempat kemarin (29/1).
Sebagian Sudah Beralih Kepemilikan
WONOSARI – Kantor Pertanahan Pemkab Gunungkidul sudah selesai melakukan pendataan tahap pertama tanah Sultan Ground (SG) di wilayahnya. Namun demikian, data-data tersebut masih mentah karena belum menyentuh kepemilikan SG. Sifatnya masih sebatas penelitian administrasi belum pendataan langsung ke lokasi.Kepala Kantor pertanahan Gunungkidul, Yohanes Supama mengatakan pendataan tahap pertama dengan sasaran data peta desa. Kemudian diinventarisir oleh petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk mendapatkan data luas dan letak SG.”Untuk inventarisir data awal sudah selesai,” kata Yohanes Supama dalam acara penyuluhan kegiatan legalisasi aset prona dan lintas sektor tahun anggaran 2014 di kantor setempat kemarin (29/1).Dia menjelaskan, sebagian tanah SG di wilayahnya terletak di wilayah pantai. Semua sudah dalam pengawasan pemerintah. Meski keberadaan tanah tersebut bisa dimanfaatkan untuk masyarakat bukan berarti boleh diperjualbelikan. “Setelah pendataan tahap pertama akan bersambung ke tahap berikutnya,” ucap dia.Sementara itu Sekda Gunungkidul, Budi Martana menegaskan, tanah SG tidak boleh diperjualbelikan. Dia mengakui, memang ada sejumlah titik sudah beralih tangan. Informasi itu akan ditindaklanjuti oleh pemerintah.Dalam waktu dekat pihaknya akan segera mengumpulkan kepala desa khusus di sekitar pantai untuk diberi pemahaman. Intinya, mencegah penjualan tanah SG kepada spekulan karena itu tidak dibenarkan.”Nanti di dalam pertemuan akan mendatangkan pejabat pertanahan, bupati, dan panitikismo untuk mengetahui tanah SG yang sudah dijual dan apa saja alasannya dijual. Karena ada yang hanya memiliki kuitansi dianggap kekancingan,” ujarnya.Menurut Budi, untuk sementara perizinan penggunaan SG dihentikan terlebih dahulu sembari menunggu pendataan selesai. Dia memastikan, pemanfaatan tanah SG di wilayahnya akan dilakukan secara merata. Bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat seperti pembuatan embung. (gun/iwa)