OBJEK WISATA: Pantai Depok menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Bantul. Bahkan menjadi salah satu pantai yang menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) tertinggi setelah Pantai Parangtritis.
KRETEK – Siapa sangka Pantai Depok yang terkenal dengan objek wisata kuliner dulunya merupakan sarang praktik prostitusi. Stigma negatif yang melekat bertahun-tahun itu kini hilang. Usaha warga di sana patut diacungi jempol.Pada pertengahan dekade 1990-an kawasan Pantai Depok, Parangtritis, Kretek masih sepi. Tidak ada bangunan warung-warung kuliner maupun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) seperti saat ini. Demikian pula dengan perahu-perahu nelayan. Hanya ada bangunan gubuk-gubuk kecil. “Gubuk-gubuk kecil biasanya dimanfaatkan PSK (pekerja seks komersial) menerima tamu-tamunya,” ucap tokoh masyarakat setempat Sutarlan akhir pekan lalu.Ketika itu, Pantai Depok memang sering didatangi para pengunjung asal luar Kretek. Hanya saja, kedatangan mereka bukan untuk berwisata, melainkan menghabiskan waktu luang untuk memancing ikan. Selain membawa pulang, biasanya mereka juga memasak hasil ikan pancingan di kawasan pantai.Dibanding sejumlah objek pariwisata pantai lainnya, eksistensi Pantai Depok saat itu masih kalah. Nama Pantai Pandansimo, dan Pantai Samas misalnya sudah tak asing lagi bagi wisatawan. “Nenek moyangnya pantai-pantai di Bantul ya Samas dan Pandansimo,” tutur bapak dua anak ini.Hanya saja, kemudian eksistensi kedua pantai tersohor tersebut meredup. Pria kelahiran tahun 1960 ini mensinyalir penyebab menurunnya pamor kedua pantai tersebut karena dijadikan sebagai ajang praktik prostitusi.Di tengah-tengah melakukan pencermatan atas kedua pantai itu, Sutarlan bersama dengan sejumlah warga lainnya berinisiatif melakukan konsultasi dengan para nelayan Cilacap, Jawa Tengah yang biasa beroperasi di sejumlah pantai di Bantul. “Kita mau tanya kepada mereka apakah Pantai Depok bisa diceburi perahu apa nggak,” kenangnya.Hasilnya, menggembirakan. Pantai Depok ternyata dapat digunakan untuk bersandar perahu nelayan. Alhasil, pada tahun 1998 warga setempat meminta tiga nelayan asal Cilacap, Jawa Tengah melaut dari Pantai Depok.Hampir bersamaan, Sutarlan bercerita, warga setempat juga berusaha membersihkan kawasan Pantai Depok dari berbagai praktik prostitusi. Puluhan PSK yang biasa menjajakan diri di kawasan pantai diminta bergegas pergi. Tak hanya itu. Warga juga membongkar bangunan gubuk-gubuk kecil milik para PSK.”Kita sadar jika Depok ingin maju harus bersih dari praktik prostitusi. Kalau masih ada mustahil bisa maju,” jelas pria yang sehari-hari bekerja sebagai salah satu staf di Institut Seni Indonesia ini. Bagi dia, membersihkan kawasan Pantai Depok dari praktik prostitusi bukanlah perkara sulit. Semuanya tergantung kepada keinginan warga sendiri. Menurunya sejak kedatangan nelayan asal Cilacap tersebut kondisi perokonomian warga setempat berangsur membaik. Banyak warga yang belajar kepada mereka bagaimana cara melaut dengan benar dan aman. Sehingga tak sedikit dari warga di kawasan Pantai Depok kini punya profesi sampingan sebagai nelayan.Pada tahun 2000, warga mendirikan koperasi wisata Mina Bahari 45. Fungsinya, menampung dan memfasilitasi para nelayan. Sebab ikan hasil tangkapan nelayan meningkat. Disamping itu, warung-warung kuliner juga mulai menjamur. “Kita kelola. Dari situ kita bisa mendirikan sarana infrastruktur seperti TPI, pasar ikan, tempat parkiran, dan sekarang di sini juga ada masjid,” urai salah satu pengurus Koperasi Mina Bahari 45 ini.Kini, Pantai Depok menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Bantul. Bahkan menjadi salah satu pantai yang menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) tertinggi setelah Pantai Parangtritis.Saat musim tertentu, seperti musim ikan dan musim liburan panjang perputaran uang dalam sehari di Pantai Depok mencapai ratusan juta rupiah.”Warung kuliner ada sekitar ada 60-an. Perahu-perahu nelayan ada 50 unit lebih. Ada 500 orang lebih yang mencari mata pencaharian di sini,” tutupnya. (zam/ila)