MENDUNIA: Ganode memilih berjualan secara online karena pergerakannya jauh lebih cepat, pangsa pasarnya telah sampai ke negara-negara Eropa.

Menengok Bengkel Kulit Ganode
Brand Ganode Indonesia mungkin memang belum banyak terdengar luas. Merek produk tas dan jaket kulit itu memang baru muncul pada Maret 2013. Meski terhitung pendatang baru, Ganode telah mendunia.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
Bengkel Ganode sangat sederhana. Di sebuah rumah di Jalan Godean Km 5, Modinan, Gamping. Di situ ada seperangkat komputer untuk menggarap desain dan memasarkan produk secara online. Di sana juga terdapat showroom seukuran ruang tamu dan workshop dengan beberapa mesin jahit otomatis.Tempat itu menjadi lokasi ngumpul anak-anak muda penuh kreasi. Ganode merupakan sekumpulan empat orang pemuda dengan kemampuan masing-masing. Ditambah tiga orang pekerja, tepatnya penjahit ahli. Pentolannya adalah Yuyun Afnan Anjar Purnomo yang fokus mengurus marketing produk. Pemuda 31 tahun itu menjadi CEO brand spesialis tasdan jaket kulit.Munculnya brand Ganode bukan tanpa alasan. Itu merupakan kependekan dari Gatotkaca Not Death atau Gatotkaca Tak Mati. Umumnya tokoh pahlawan pada dunia cerita memang tak lekang dimakan zaman. Hanya Gatotkaca yang diceritakan tewas pada suatu peperangan. “Kami ingin mengusung falsafahnya pada semangat Gatotkaca itu yang tak pernahmati,” ungkap Yuyun.Produk Ganode lebih banyak dijual secara online. Karena itu, pangsa pasarnya telah mencapai negara-negara di Eropa dan Asia. Jualan online, diakui Yuyun, pergerakannya lebih cepat. Dari pengalaman itu, Ganode pun harus bergerak cepat. Salah satunya soal perizinan. Yuyun memprediksi perizinan produk paling tidak satu tahun. Tapi baru enam bulan jalan muncul pertanyaan dari konsumen di Eropa tentang legalitas produk. “Ini salah satu kendala. Tapi justru menjadi cambuk untuk percepatan usaha. Itu bukti bahwa produk kami diakui,” kata pemuda berkacamata itu.Ganode memang tak diproduksi secara masal. Modal dan tenaga kerja menjadi kendalanya. Itu menjadi alasan Yuyun tak bisa memenuhi permintaan konsumen di Jepang dan negara lain yang menginginkan kiriman barang hingga puluhan ribu produk.Yuyun mengakui, Ganode lebih cenderung dikemas layaknya produk butik dengan lebih kayadesain bukan peaces-nya. Saat ini sekitar 25 model telah dibuat. “Paling banyak kami produksi dua lusin tiap model,” katanya.Tiap bulan, tas Ganode hanya diproduksi sebanyak 60 hingga 70 item. Itu belum termasuk pesanan konsumen. Selain membuat desain sendiri, Ganode juga menerima pesanan dengan desain sesuai selera konsumen. Itupun harus dikerjakan setelah jam kerja, lantaran Ganode hanya memiliki tiga orang penjahit.Harga produk Ganode memang terbilang cukup tinggi untuk kantong penduduk lokal. Ibarat ada harga ada rupa, itulah yang ingin ditonjolkan oleh Yuyun. Harga sesuai kualitas produk. Untuk tas, ada tiga kategori. Low seharga Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu untuk pasarlocal. Sedangkan medium Rp 350 ribu sampai Rp 700 ribu, dan high antara Rp 700 ribu hingga Rp 5 juta. Pada level low, produk berupa kain kanvas, sedangkan medium perpaduan kain dan kulit dengan persentase 40 sampai 60, sementara high class terdiri full kulit sapi. Sedangkan produk jaket paling murah dibanderol Rp 1,3 juta. “Itu harga minimal tapi kualitas kami jamin. Harga dibawah itu kami nggak berani jamin,” ucap Yuyun berpromosi.Tarif mahal juga setara dengan tingkat kesulitannya. Apalagi konsumen dari luar negeri, khususnya Jepang, terkenal detail terhadap produk. Cacat sedikit saja pada jahitan, mereka tak mau terima.Karena itu, Yuyun memilih penjahit ahli dan berani menjahit dengan bahan kulit. “Ternyata tak banyak yang berani,” katanya.Sebab menjahit produk kulit, lanjut Yuyun, harus sekali jalan dan sekali jadi. Tak boleh diulang. Salah sedikit saja produk akan cacat. “Itu repot,” candanya.Beda dengan kain, beberapa kesalahan masih bisa ditoleransi dengan perbaikan kecil. Meski begitu itu dianggapnya sebagai tantangan. Lambat laun, ketekunan penggawa Ganode membawa hasil. Kini omzet mencapai Rp 50 juta per bulan. Angka yang cukup lumayan untuk pendatang baru. (*/ila)