MUNGKID – Adanya sabo dam yang dilalui armada truk pengangkut bahan galian golongan C memaksa Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) berbicara. Secara tegas, BBWSO melarang armada truk pengangkut galian golongan C melalui atas bangunan sabo dam. Alasannya, armada truk tersebut sering mengangkut material bahan galian golongan C melebihi tonase.Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Gunung Merapi Dwi Purwantoro menyatakan, kontruksi semua sabo dam yang dibangun di Lereng Merapi tidak untuk dilewati kendaraan. Pascabanjir lahar dingin yang menghanyutkan beberapa jembatan pada 2011, BBWSSO memberikan kelonggaran. “Kontruksi yang kami bangun, hanya untuk kendaraan ringan di bawah 8 ton. Padahal, truk-truk yang membawa galian C, biasanya membawa lebihdari 8 ton,” kata Dwi, saat berkunjung ke Borobudur kemarin (3/2).Menurut Dwi, sabo dam diperbolehkan dilalui bagi bus umum, pariwisata, armada angkutan sayur, mobil pribadi, dan lainnya. Tetapi, untuk armada truk pengangkut galian C, jelas-jelas dilarang.Selama 2013, BBWSSO telah membangun puluhan sabo dam di sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Selain di Kabupaten Magelang, BBWSSO juga membangun sabo dam di tiga kabupaten lain. Yaitu, Kabupaten Sleman, Boyolali dan Klaten.Dari sekian sabo dam yang dibangun, Dwi mendapat laporan adanya sabo dam yang dilalui armada truk. Dengan begitu, untuk kepentingan semua elemen, BBWSSO melarang truk-trukyang membawa bahan galian C melewat sabo dam.”Lebih baik kami larang. Yang perlu diketahui masyarakat, biaya membenahi lebih mahal dibanding membangun,” tegasnya.Terpisah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kabupaten Magelang Soedjarno menjelaskan, aktivitas penambangan galian golongan C di sungai yang berhulu di Merapi tidak sesuai aturan. Yaitu, Perbup 1 Tahun 2011 tentang penguasaan bahan galian golongan C hasil erupsi Merapi pada 2010. Beberapa dampak negatif akibat penambangan adalah kerusakan jalur evakuasi di sejumlah titik.”Banyak jalur evakuasi yang rusak, karena truk penambangan yang kerap melintas,” jelasnya.Dikatakan, beberapa aktivitas penambangan yang merusak utamanya penggunaan alat berat. Penambangan tersebut dilakukan di dekat tanggul, sabo dam, dan jembatan yang berfungsi menahan banjir lahar hujan.Soedjarno mengaku siap menggelar operasi untuk penertiban penambangan material hasil erupsi Merapi. Karena banyak aktivitas penambangan di sejumlah titik alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi yang tak berizin.”Operasi dan penertiban penambangan perlu dilakukan koordinasi pihak terkait. Seperti Kepolisian, kecamatan, dan masyarakat dekat alur sungai tempat penambangan,” katanya.(ady/hes)