BERADU: Kelima calon bakal beradu intelegensi dan strategi untuk menduduki kursi rektor Universitas Islam Indoensia (UII) periode 2014-2018.
*UII Gelar Rencana Aksi Calon Rektor
SLEMAN – Empat guru besar dan seorang doktor bersaing untuk memperebutkan jabatan rektor Universitas Islam Indoensia (UII) periode 2014-2018. Kemarin (4/2), kelima tokoh itu saling beradu misi dalam pengembangan kedepan perguruan tinggi tertua di Indonesia itu.Mereka adalah Prof Hadri Kusuma Ph.D, Prof Mochamad teguh PhD, Prof Jawahir Thontowi PhD, Prof Sarwidi PhD, dan Nandang Sutrisno PhD. Kelimanya bakal beradu intelegensi dan strategi untuk menduduki kursi yang selama dua periode disandang oleh Prof Edy Suandi Hamid.Masing-masing memiliki rencana aksi sebagai bagian strategi pemenangan. Prof Hadri menitikberatkan pada alanisis SWOT yang dijabarkan menjadi empat strategi program pengembangan besar. Yakni redesigning contents, process, pola pengembangan sumber daya manusia, dan pola kerja sama. Program unggulan meliputi penguatan riset dan pengabdian masyarakat sesuai roadmap penelitian UII. Yang menekankan keislaman dan pengembangan pemerintah daerah, serta penelitian dasar dan terapan berkualitas internasional.Selain itu, membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan UII, penguatan good university governance, dan penguatan teknologi informasi dalam peningkatan kinerja. “Tujuan yang ingin dicapai adalah memperkuat keunikan dan keunggulan UII,” katanya.Sedangkan Prof Teguh berpandangan untuk mewujudkan visi dan misi UII diperlukan tahapan sesuai strategi pengembangan jangka panjang 2008-3023. Juga rencana induk pengembangan UII 2008-2038. Tahap awal berupa pengembangan menuju rekayasa ulang institusi guna mewujudkan teaching university. Selanjutnya lebih pada penguatan keunggulan dan keunikan menuju excellent teaching university 2015-2022. “Untuk itu diperlukan strategic intent, perumusan, dan target,” katanya.Dalam mencapainya, lanjut Teguh, UII membutuhkan kompetensi institusi dan networking. Juga perumusan universitas unggulan dalam pendidikan dengan target menjadi research-based teaching dan local genius based teaching.Sementara, Prof Jawahir Thontowi berpendapat fokus utama atau core business UII sepanjang zaman dan hingga sekarang adalah pendidikan, penelitian, pengabdian, serta dakwah Islam. Rencana aksi Jawahir untuk mengembalikan (realigning) dan memperkuat (empowering) UII sebagai mercusuar pendidikan yang berpegang teguh pada warna-warni Islam. “Action plan bergerak dalam tiga pilar. Iman dan taqwa, iptek dan teknologi, serta Islam dan kebangsaan,” paparnya.Beda lagi dengan pandangan Nandang Sutrisno, yang memiliki pengalaman sebagai wakil rektor mendampingi Edy Suandi Hamid. Nandang mengusulkan rencana aksi dengan tema Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Berparadigma Profetik sebagai Keunggulan dan Keunikan UII Menuju World Class (Islamic) University.Dalam pengembangan iptek profetik, menurut Nandang, diperlukan konsentrasi ekstra tinggi. Karena itu harus didukung program pembaruan kurikulum dan agenda penelitian yang berkesinambungan.Jika hal itu terwujud, Nandang optimistis langkah itu akan menjadi kontribusi yang dapat diberikan UII bagi perkembangan peradaban dunia modern dam peradaban baru Islam. “Tradisi keilmuan timur dan barat akan bertemu di UII sehingga kampus ini menjadi Al-Azhar dan Chicago-nya Indonesia,” ungkap Nandang.Sementara itu, Prof Sarwidi memfokuskan rencana aksi pada empat hal. Yakni institutional reengineering melalui penguatan tata kelola yang baik. Juga menguatkan keunggulan dan kualitas akademik, menjadikan UII sebagai world class university, serta meningkatkan kualias dan kuantitas pengabdian pada masyarakat dan dakwah Islamiyah. (yog/ila)