MUNGKID – Putusnya jalur evakuasi bagi warga Lereng Merapi diharapkan mendapat perhatian Pemkab Magelang. Warga menginginkan, putusnya jembatan Sungai Kepil segera diperbaiki.Alasannya, selain jalur utama evakuasi, jembatan tersebut merupakan jalur ekonomi dan pendidikan. Setiap hari, baik petani maupun anak sekolah menggunakan jembatan tersebut.Surtini, salah satu pedagang sayuran mengaku biasa melalui jembatan yang menghubungkan Desa Paten dan Desa Sewukan, di Kecamatan Dukun tersebut. Karena jembatan putus, perempuan berusia 70 tahun itu terpaksa menyeberangi sungai.”Kami berharap, cepat dibangun kembali jembatan yang putus. Karena jembatan ini merupakan jalur perdagangan,” ungkap Surtini, sembari menggendong dagangannya, kemarin (4/2).Andrean, warga setempat juga berharap sama. Ia menginginkan jembatan dibangun kembali. Andrean menilai, jembatan yang dibangun pada 1974 tersebut, tidak pernah mendapat perhatian Pemkab Magelang. Sebelum ambrol, jembatan tersebut sudah diketahui retak dibagian gorong-gorong.i, Sewukan, dan Krinjing. Semua desa tersebut sudah mendapat bantuan aspal. Namun, saat jembatan di desanya runtuh, pemkab tidak cepat merespons.”Padahal, sama-sama berada di zona merah Merapi. Apalagi bagi kami, sebagai jalur evakuasi tentu jembatan itu sangat penting,” katanya.Ia berharap jembatan dibangun secepatnya. Ia juga menyindir, warga setempat juga sudah membayar pajak sesuai yang ditentukan. Dengan begitu, ia berharap pemerintah memperhatikan kondisi tersebut. Termasuk membangun infrastruktur yang memadahi.”Ke depan, pembangunan jembatan diharapkan memakai konstruksi yang kuat. Tidak seperti ini,” pintanya.Kepala Urusan Pembangunan Desa Paten Samsul memperkirakan, jembatan Sungai Kepil runtuh ikarena faktor konstruksi dan usia jembatan. Disebutkan, jembatan ini dibangun warga pada 1974 secara swadaya. Samsul mengungkapkan, bagian gorong-gorong jembatan tertutup material sehingga aliran air tidak lancar. “Sehari sebelum jembatan runtuh, ada genangan air yang dalam,” imbuh Samsul.Untuk sementara waktu, warga dibantu relawan membangun jalur darurat. Jalur darurat dibangun dengan mengepras tebing di sisi kanan jembatan dari arah Desa Sewukan. Dengan peralatan seadanya, warga memotong pohon dan membangun undag-undaan di tebing sungai.Kemudian, warga menata batu-batu di bagian sungai yang dalam sebagai tempat pijakan. Setelah itu, mereka membuat jembatan bambu untuk menghubungkan sungai bagian timur dan sungai bagian barat. Meski jalur darurat, yang terpenting warga kedua desa bisa lewat. “Kami memasang batang bambu untuk pegangan tangan,” imbuh Harjo, relawan dari Guruh Merapi.ady/hes)