JENIS BARU: Terungkap jenis baru psikotropika, pil merah muda berlogo hati mengandung unsur metilon, ketamin, dan kafein positif. Pil ini efeknya lebih dahsyat dibanding ekstasi.
*Polisi Bongkar Sindikat Pabrik Sabu
SLEMAN – Peredaran narkoba di wilayah Jogjakarta kian memprihatinkan. Terungkap jenis baru psikotropika berupa metilon, yang efeknya lebih dahsyat dibanding ekstasi. Lebih parah lagi, di Jogjakarta ditemukan pabrik sabu-sabu. Hasil produksinya tak hanya diedarkan di wilayah DIJ, tapi dikirim ke Medan dan Kalimantan.Setidaknya, dua fakta baru peredaran narkoba itu hasil penyelidikan jajaran ditresnarkoba Polda DIJ pada Januari 2014. Meski berskala kecil layaknya home industry, keberadaan pabrik yang dikelola tersangka Fahrur Rozi, 40, patut diwaspadai. Itu menunjukkan Jogjakarta tak bersih dari narkoba.Pabrik sabu itu berada di rumah tersangka di Puri Taman Indah C1, RT 07, Grojogan, Banguntapan, Bantul. Polisi berhasil menangkap tersangka beserta barang bukti berupa sabu seberat 0,67 gram yang disembunyikan di saku celana pada 29 Januari sekitar pukul 18.00. Tersangka ditangkap di depan Hotel Winotosastro di Timuran Jalan Parangtritis, Mergangsan, Kota Jogja.Selanjutnya, polisi mengembangkan penyidikan dengan menggeledah rumah tersangka. Nah, disitulah polisi menemukan barang bukti berupa perkakas dan bahan pembuat sabu. Diantaranya aqua distila, methanol, garam, arang, tawas, tepung kanji, dan alat pemanggang berupa oven elektrik.Polisi juga menggeledah rumah lain yang pernah menjadi tempat persembunyian tersangka di Sedayu, Bantul. Di lokasi ke dua, polisi menemuka dua botol HCL yang berfungsi sebagai prekusor dan clorofarm atau bahan ekstraksi (pemisah bahan baku dengan sabu). “Tersangka memang menjadi target operasi kami sejak empat bulan terakhir,” ujar Direktur Reserse Narkoba AKBP Dedy Sumarsono kemarin (4/2).Menurut Dedy, tersangka adalah residivis yang pernah ditahan atas kasus serupa di Kota Jogja pada 2010. Ironisnya, sesuai pengakuan tersangka, order produksi sabu-sabu tersebut justru diperoleh dari penghuni Lapas Narkotika Pakem.Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 112 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Tersangka terancam hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun dengan denda antara Rp 800 juta hingga Rp 8 miliar. Polisi juga menjerat tersangka dengan pasal 129 huruf (a) lantaran memiliki bahan prekusor. Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun atau denda paling banyak Rp 5 miliar. “Kami meyakini masih ada pabrik lain yang sejenis di wililayah Jogjakarta. Ini harus menjadi kewaspadaan bersama,” tegas Dedy.Sementara itu, kasus lain yang menjadi perhatian polisi adalah temuan pil mengandung bahan metilon. Pil tersebut diperoleh polisi dari tersangka Nurhayadi, 41, yang sehari-hari berprofesi sebagai pengamen.Nurhayadi ditangkap di rumahnya, Notoyudan RT 78/RW 22, Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Jogja. Dari tangan tersangka, polisi menyita lima butir psikotropika yang awalnya diduga ekstasi. Namun, setelah diuji di laboratorium forensik di Semarang, hasilnya cukup mengejutkan. Pil merah muda berlogo hati itu mengandung unsur metilon, ketamin, dan kafein positif.Dari uji kriminalistik, pil tersebut tak mengandung bahan narkotika seperti diatur dalam UU 35/2009. “Ini persis kasus artis Rafi Ahmad, yang sampai sekarang belum bisa dibawa ke pengadilan,” ungkap Dedy.Kendati begitu, sebagai pengedar barang haram itu, tersangka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Tersangka dijerat pasal 197 dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun dengan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. (yog/ila)