MANFAATKAN TEKNOLOGI: Videotron yang berada di Jl Panembahan Senopati Jogja kemarin (4/2).
JOGJA – Keberadaan videotron memberi sumbangsih besar ke kas Pemkot Jogja. Dinas Pajak Daerah dan Pengelolaan Keuangan (DPDPK) Kota Jogja tak membantah hal tersebut.
Petinggi di instansi tersebut mengakui videotron merupakan media iklan alternatif. Layar yang menampilkan iklan itu mampu memberikan pemasukan ke pos pajak daerah lebih besar dibanding papan reklame konvensional.
Kepala Bidang Pajak Daerah DPDPK Kota Jogja Tugiyarto membenarkan videotron merupakan media iklan alternatif yang memanfaatkan kemajuan teknologi. Selain itu, model media iklan luar ruangan tersebut mampu menekan penggunaan ruang publik sebagai media promosi.
“Saat ini jumlah videotron di Jogja ada Sembilan. Konsep tersebut mampu memberikan alternatif bagi para pemasang iklan yang akan mengiklankan produknya. Peminat belum terlalu banyak,” jelas Tugiyarto di Balai Kota Jogja kemarin (4/2).
Sembilan videotron tersebut terpasang di berbagai titik. Di antaranya, Jalan Pangeran Diponegoro, Jl Suroto, Jl Abu Bakar Ali, Jl Panembahan Senopati, Jl Brigjen Katamso, Kleringan, dan Malioboro.
Menurut Tugiyarto, satu videotron digital bisa digunakan untuk beberapa produk. Hanya, lanjutnya, produk yang diiklankan dapat dibedakan dalam dua hal yakni rokok atau nonrokok.
Iklan rokok menggunakan bilboard ukuran 4 x 8 meter persegi. Papan iklan tersebut dikenakan pajak sebesar Rp 50 juta per tahun. Dalam setahun, dari pengelolaan semua videotron diperoleh pendapatan sekitar Rp 400 juta pertahun.
“Dengan pemasukan lebih besar, tentunya videotron menjadi media promosi alternatif. Jumlahnya terus meingkat tiap tahun untuk mempromosikan sebuah produk,” katanya.
Dia mengakui videotron mampu mengurangi papan reklame konvensional yang memakan lebih banyak lahan publik. “Tempatnya lebih sedikit, tidak seperti papan reklame konvensional,” tegasnya.
Videotron dan reklame diatur dalam Perda Nomor Nomor 8 Tahun 1998 dan Perwal Nomor 75 Tahun 2011. Pemkot Jogja berniat melakukan evaluasi terhadap keberadaan videotron.
Tugiyarto mengaku memperhatikan masukan yang disampaikan masyarakat. Dia menyatakan masukan tersebut merupakan bentuk pengawasan langsung dari masyarakat.
Salah satu masukan yang diterima adalah keluhan terkait pancaran sinar dari videotron saat malam. Sinarnya dinilai terlalu menyilaukan.
Sinar yang menyilaukan tersebut mengganggu penguna jalan. Selain itu, juga mengangu pengelihatan pengelola dan pengunjung warung yang ada di sekitar lokasi videotron.
“Videotron merupakan visual yang tidak mengeluarkan audio. Kita kaji terus agar tidak merugikan masyarakat,” ujarnya. (hrp/amd)