MEGAPROYEK: Uji coba di fly over Jombor dilakukan selama dua hari. Setelah uji coba ini, fly over akan ditutup kembali untuk melanjutkan pengerjaan lampu, relay dan rambu lalu lintas.
*Kontraktor Belum Peroleh Izin Panitikismo
SLEMAN – Kontraktor pembangunan fly over Jombor memberlakukan uji coba selama dua hari mulai kemarin (5/2). Uji coba dilakukan, sementara ada pekerjaan drainase di sisi timur fly over, tepatnya di jalan eksisting di bawah megaproyek tersebut. Setelah dua hari, fly over ditutup lagi untuk pengerjaan lampu, relay, dan rambu lalu lintas.Pejabat Pembuat Komitmen Santoso mengatakan uji coba tetap harus dijalankan meski masalah lahan belum sepenuhnya beres. Itu untuk memperlancar pengerjaan proyek di jalan eksisting. Apalagi, sempitnya jalan eksisting selalu menyebabkan kemacetan lalu lintas. Terutama arus kendaraan dari Magelang menuju Jogjakarta melalui Ring Road.Jalan eksisting di sisi kiri dan kanan flylebarnya tak lebih dari tiga meter. Padahal, sesuai rencana seharusnya selebar tujuh meter. “Fly over memang tak bisa optimal lantaran masalah pembebasan lahan belum beres,” ungkapnya kemarin.Menurut Santoso, warga tak menghendaki ada pengerjaan proyek di area lahan yang belum dibebaskan. Saat ini masih ada 19 persil yang belum dibebaskan lantaran warga menolak tawaran harga tanah yang diajukan pemerintah. Ternyata tak hanya itu masalahnya. Santoso mengatakan saat ini belum memperoleh lampu hijau untuk mengerjakan proyek di atas tanah eks PJKA di kawasan tersebut, yang saat ini statusnya milik keraton. “Kami belum mendapat izin dari Panitikismo,” ucapnya.Menurut Santoso, kondisi itu menjadi penghambat pekerjaan proyek. Kendati begitu, Santoso mengklaim proyek fly over secara umum telah selesai 96 persen. Target proyek selesai pada September 2014. “Hanya tinggal pekerjaan di jalan eksisting itu. Kami hanya bisa kerjakan di lahan yang sudah dibebaskan. Yang belum ya ditinggal,” lanjut Santoso.Alotnya pembebasan lahan disebabkan timpangnya permintaan harga oleh warga dengan patokan pemerintah. Apalagi, setiap tahun harga tanah di wilayah Sleman selalu naik. Belum tercapainya titik temu ini, lantaran warga ngotot minta uang ganti rugi lahan sebesar Rp 10 juta per meter persegi. Namun, Pemprov DIJ melalui tim apprasial hanya menghargai Rp 4,5 juta.Ketua Tim Negosiasi Warga Jombor Sudarto pernah mempertanyakan kredibilitas tim apprasial.Sebab nilai Rp 4,5 juta per meter persegi merupakan hasil estimasi tim yang dibentuk tahun 2010.Pada 2012, pemerintah membentuk tim baru, seiring habisnya masa kerja tim pertama. Tim baru ternyata mengeluarkan estimasi harga yang sama, yakni Rp 4,5 juta per meter persegi. “Ini aneh. Tanah itu tiap tahun naik nilainya. Masak ini tak ada perubahan setelah dua tahun,” kata Sudarto.Transaksi baru sangat mungkin dilakukan lagi dengan tawar menawar. Sudarto menengarai akan ada perubahan harga. Warga akan menurunkan harga, sebaliknya pemerintah harus menaikkan penawaran. (yog/ila)