JOGJA – Sektor pertanian menjadi lampu merah dalam pertumbuhan ekonomi DIJ. Pasalnya, sektor ini memiliki laju pertumbuhan terendah dan mengalami perlambatan. Meskipun masih tumbuh positif sebesar 0,63 persen tapi sektor pertanian mengalami perlambatan jika dibandingkan tahun sebelumnya. “Salah satunya karena alih fungsi lahan pertanian,” ujar Kepala BPS DIJ Bambang Kristianto kemarin (5/2).Bambang mengingatkan kondisi pada sektor pertanian di DIJ ini mengkhawatirkan. Terutama jika mengingat ketahanan pangan. Menurutnya saat ini para petani didominasi oleh para orang tua. Sedangkan anak muda dengan pendidikan yang tinggi enggan menjadi petani. “Sektor pertanian tidak lagi jadi idola, harus ada kebijakan afirmatif supaya sektor ini tetap dilirik,” jelasnya.Namun di sisi lain, tumbuhnya hotel-hotel baru di DIJ selama 2013 lalu terlihat pengaruhnya dalam pertumbuhan perekonomian DIJ. Berdasarkan berita resmi statistik Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ, pertumbuhan ekonomi DIJ pada 2013 tumbuh sebesar 5,40 persen. Hal ini karena didorong oleh pertumbuhan positif di semua sektor perekonomian, terutama dengan andil sektor perdagangan, perhotelan dan restoran dengan andil 1,31 persen.Menurut Bambang laju perekonomian DIJ terus tumbuh dari tahun ke tahun meskipun dalam satu tahun terakhir lalu perekonomian nasional mengalami perlambatan. Pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor industri pengolahan 7,81 persen. Dimana golongan industri makanan, minuman, tekstil, produk tekstil, alas kali dan kulit, furnitur memberi kontribusi sangat besar karena permintaan domestik pariwisata dan ekspor.Bambang mengatakan pertumbuhan tertinggi berikutnya dihasilkan sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 6,65 persen dan sektor pengangkutan serta komunikasi 6,30 persen. Sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa yang cukup dominan dalam struktur perekonomian DIJ juga mampu tumbuh meyakinkan.Masing-masing sebesar 6,20 persen dan 5,57 persen. “Sektor pertanian menjadi lapangan usaha yang memiliki laju pertumbuhan terendah, meskipun masih tumbuh positif 0,68 persen,” ungkapnya.Sumber utama pertumbuhan ekonomi DIJ 2013 didorong oleh konsumsi rumah tangga serta ekspor barang dan jasa dengan andil masing-masing 2,81 persen. Diikuti pembentukan modal tetap bruto 1,32 persen dan konsumsi pemerintah 1,07 persen.PDRB per kapita atas dasar harga berlaku tahun 2013 mencapai Rp17,98 juta dan senilai dengan Rp 6,93 juta atas dasar harga konstan 2000. “Konsumsi pemerintah ini salah satunya dipengaruhi pencairan Dana Keistimewaan (Danais),” tuturnya.Terpisah, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIJ Arief Budi Santosa mengatakan adanya Danais ini mendorong pertumbuhan konsumsi pemerintah. Dirinya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2013 masih terasa hingga 2014, bahkan akan melesat.Namun, tegas dia, bukan berarti Danais menjadi penopang utama pada 2014. Industri kecil seperti bisnis pembuatan kaus, stiker, bendera maupun yang berhubungan dengan pemilu juga ikut menggeliat. “Harapannya 2014 tidak ada gangguan. Apalagi jika ada penataan lalu lintas sehingga bisa mendorong perdagangan, hotel dan restoran,” jelasnya. (pra/ila)