JOGJA – Aksi massa pendukung HM Idham Samawi di depan gedung Jogja Expo Center (JEC) Rabu lalu (5/2), mendapat perhatian serius sejumlah pegiat antikorupsi. Para aktivis yang tergabung dalam Jaringan Antikorupsi Jogjakarta (JAK) menilai, aksi tersebut dapat dikategorikan sebagai upaya menghalang-halangi penyidikan perkara dugaan korupsi hibah Persiba yang tengah diusut Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ.
Dalam aksi Rabu lalu itu, massa menilai, penetapan Idham sebagai tersangka bermuatan politis dan terkesan mengada-ada.
“Kejati DIJ jangan tutup mata, jangan tutup telinga terhadap aksi demonstrasi yang dilakukan pendukung Idham,” kata anggota JAK Tri Wahyu KH kemarin (6/2).
Menurut Tri Wahyu, tuduhan massa pendukung Idham harus mendapat perhatian serius kejati. Sebab, tuduhan tersebut berpotensi memecah belah masyarakat yang selama ini concern terhadap pemberantasan korupsi. Jangan sampai tuduhan itu menggelinding bak bola salju yang terus membesar.
“Rakyat Bantul harus berpikir cerdas, serahkan pada proses hukum. Jangan sampai tragedi perusakan kantor LOS 2008 lalu oleh ratusan warga Bantul terulang,” ingat direktur Indonesia Corp Monitoring (ICM) itu.
Dari pantauan JAK, penggalangan massa sudah berlangsung cukup lama. Saat Idham ditetapkan sebagai tersangka pada 18 Juli 2013, pendukung Idham langsung konsolidasi dan menggalang dukungan. Selain memasang spanduk, pendukung Idham sempat menggelar orasi di Pasar Seni Gabusan (PSG) berbarengan dengan acara yang digelar suporter Paserbumi.
Selain itu, anggota Komisi III sekaligus Ketua BK DPR RI Trimedia Panjaitan sempat mendatangi kantor kejati. Diduga, ketua Bidang Hukum DPP PDI Perjuangan itu hendak mengintervensi proses penanganan perkara korupsi hibah Persiba.
“Rangkaian peristiwa tersebut dapat dijadikan alasan bagi kejati untuk segera menahan tersangka. Apalagi, para tersangka disangka pasal dengan hukuman di atas lima tahun,” papar Tri Wahyu.
Koordinator JAK Zainurrahman menambahkan, proses penyidikan hibah Persiba berbelit. Kejati terkesan tak serius menuntaskan perkara yang menyeret Ketua Umum Persiba HM Idham Samawi dan mantan kepala Kantor Pemuda dan Olahraga Edy Bowo Nurcahyo.
Meski sudah dipanggil sebanyak tiga kali, tersangka tak kunjung ditahan. Ini berbeda saat kejati menangani perkara dugaan korupsi BOK PT JTT/Trans Jogja dan tembakau Virginia di mana kejati langsung menahan para tersangka. “Jangan sampai ada anggapan bahwa kejati tebang pilih,” kata Zainurrahman.
Dia juga mengimbau masyarakat tak terpancing dengan provokasi yang bertujuan menghambat proses penyidikan hibah Persiba. Bagi masyarakat yang ingin mengetahui dugaan korupsi hibah Persiba secara detail, dapat melihat proses persidangan di Pengadilan Tipikor mendatang.
“Beri kesempatan kepada kejaksaan bekerja secara maksimal untuk menuntaskan perkara tersebut. Serahkan perkara hibah Persiba pada hukum yang berlaku. Sebab, pembuktian ada di pengadilan, bukan di luar persidangan,” tandasnya. (mar/abd)