JOGJA – Pada Maret mendatang, armada Transjogja bertambah 20 bus. Bus tersebut dibeli PT Jogja Tugu Trans (PT JTT) dari Trans Bandar Lampung.Direktur Utama PT JTT Bambang Sugiharta mengatakan, bus tersebut sudah dibawa ke Jakarta dan dimasukkan ke karoseri sebelumnya, Rahayu Sentosa. Di tempat tersebut, ke-20 bus tersebut harus dicat lagi, agar menyerupai warna yang sama dengan armada Transjogja saat ini, hijau dan kuning.”Bulan Maret baru dibawa ke Jogja. Sekarang masih disesuaikan warnanya,” tegas Bambang, kemarin (6/2).Bambang melanjutkan, kondisi bus tersebut masih 100 persen. Dijelaskan, awalnya bus tersebut sempat dibeli Trans Bandar Lampung. Karena beberapa hal, bus tersebut belum pernah digunakan.”100 persen lah (kondisinya, Red). Baru kok ini,” kata mantan direktur PO Damri tersebut.Ia tak mau menyinggung berapa harga bus tersebut. Menurutnya, hal tersebut merupakan urusan bisnis. Di sisi lain, Bambang mengakui pihaknya mendapatkan kemudahan membeli bus, karena mendapat pinjaman dari bank pelat merah dari Pemprov DIJ. Yaitu, BPD DIJ.”Apa perlu diberitakan nilainya. Ngapain, yang penting adalah bus-nya,” sergahnya, lantas tertawa.Sementara itu, Kepala UPT Transjogja Agus Minang menyampaikan, ke-20 bus tersebut nantinya dioperasikan untuk jalur 4A dan 4B. Jalur tersebut sempat dioperasionalkan. Kemudian, ditutup karena 20 bus yang beroperasional di jalur tersebut tak memenuhi persyaratan administratif.”Mayoritas di jalur 4. tetapi akan ada yang digunakan di jalur–jalur lain juga,” katanya.Soal anggaran, lanjut Minang, sudah dipersiapkan pada APBD 2014. Anggaran biaya operasional kendaraan naik dari Rp 27 miliar menjadi Rp 35 miliar untuk 74 bus atau Rp 5.395/ bus/ kilometer.Berdasarkan perubahan perjanjian ketiga antara Pemprov dan PT JTT atas kenaikan tersebut, PT JTT bersedia menambah 20 bus.Minang meneruskan, sesuai kontrak yang dibuat dengan PT JTT, ke-20 bus tersebut harus dioperasionalkan selambat–lambatnya 1 Mei 2014. Jika, per tanggal tersebut bus belum juga turun ke jalan, UPT Transjogja akan mendenda pihak ketiga tersebut. Dendanya sebesar 1/1000 dari nilai kontrak. Nilai kontrak 20 bus tersebut berkisar Rp 8 miliar. Jika satu hari telat dioperasikan, PT JTT didenda sekitar Rp 8 juta per hari.”Belum tahu Maret atau nggak. Paling lambat 1 Mei. Syukur–syukur awal Maret sudah ada,” kaanya.(hed/hes)