Dirancang Menjadi Kawasan Pecinan, Kampung Ketandan Layak Masuk dalam Jogja Heritage City
Kampung Ketandan di Kota Jogja dikenal sebagai kampung Tiongkok. Kampung itu layak masuk dalam Jogja Heritage City yang sedang dirancang Pemkot Jogja dan Pemprov DIJ.
Heditia Damanik, Jogja
KETUA Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) Tri Kirana Muslidatun punya harapan besar terhadap Kampung Ketandan. Harapan itu dia lontarkan ke Gubernur DIJ Hamengku Buwono X beberapa waktu lalu.
Harapan itu adalah menjadikan kampung yang berada persis di sisi timur kawasan Malioboro tersebut sebagai bagian dari program Jogja Heritage City. “Beliau (HB X) merespons baik,” kata Ana, panggilan akrab Tri Kirana, usai bertemu HB X di Kepatihan Pemprov DIJ (5/2).
Dengan masuk ke dalam Jogja Heritage City, diharapkan Kampung Ketandan bisa menjadi China Town atau kawasan pecinan seperti di daerah maupun negara lain. Di Indonesia, misalnya, ada kawasan pecinan Semawis di Semarang, Jawa Tengah. Sedangkan di luar negeri, antara lain ada di Singapura.
Menurut Ana, upaya tersebut akan dimulai dari peresmian Rumah Budaya Tionghoa yang ada di kampung tersebut bersamaan dengan pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa pada 10-14 Februari. “Jadi selain acara rutin, juga akan ada peresmian,” terang istri Haryadi Suyuti, wali kota Jogja, tersebut.
Rumah budaya yang bakal diresmikan itu telah berusia 125 tahun. Dirancang oleh seorang arsitektur asli Tionghoa, selama delapan tahun terakhir, rumah tersebut tidak berpenghuni. Kata Ana, itu akan menjadi tempat pameran benda-benda asli Tionghoa. Misalnya, koleksi perabotan dan furnitur.
“Kami juga akan kerja sama dengan organisasi Tionghoa internasional agar barang-barang yang di sana (Tiongkok) bisa dipamerkan di rumah ini,” kata dia.
Rumah tersebut akan menjadi stimulan terlebih dulu. Selanjutnya, jika sudah masuk dalam Jogja Heritage City akan diambil alih oleh Pemkot Jogja. Rencananya, lanjut Ana, semua bangunan yang masih berfasadasli Tionghoa akan direvitalisasi dan dikembalikan seperti semula.
Ada lebih sepuluh rumah yang masih berfasad Tiongkok asli. Usia rumah-rumah itu sudah lebih dari seratus tahun. Untuk revitalisasi rumah-rumah itu diharapkan bisa menggunakan dana keistimewaan (danais).
Ana mengungkapkan, PBTY, Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Jogja, dan Dinas Kebudayaan DIJ sudah menggelar rapat membahas hal ini. “Rencananya dimasukkan ke danais 2014,” imbuhnya.
Ana mengatakan tetap ada kesulitan untuk melakukan revitalisasi tersebut. Sebab, kebanyakan rumah kuno tersebut dihuni orang yang berusia tua. Mereka relatif susah untuk diajak berkomunikasi. “Belum dipindahkan. Yang mengurusi relatif sudah tua,” terangnya.
Ana mengharapkan, saat kampung tersebut bisa menjadi pecinan maka kegiatan di lingkungan tersebut bisa lebih diintensifkan. “Bukan setahun sekali saja,” tandasnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP ESDM) DIJ Rani Sjamsinarsi menyampaikan Ketandan memang masuk kawasan Malioboro. Namun, untuk tahun ini pihaknya baru akan melakukan penataan di Alun-Alun Utara, Taman Parkir Ngabean, dan Jalur Malioboro. “Jadi (penataan Kampung Ketandan) menyusul,” tandasnya. (*/amd)