JOGJA – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja terus membidik gelandangan dan pengemis (gepeng). Jajaran di instansi tersebut selalu berupaya melakukan penertiban kepada para gepeng yang ada di Kota Jogja.Penanganan kerap menemui kendala. Salah satunya lantaran para gepeng sering berpindah-pindah lokasi.Kepala Bidang Rehabilitasi dan Masalah Sosial Dinsosnakertrans Kota Jogja Octo Noor Arafat mengatakan, rencana pembuatan peraturan daerah (perda) terkait penanganan gepeng yang digagas Pemprov DIJ direspons positif. Perda itu diyakini mampu membantu upaya mengatasi gepeng di perbatasan wilayah di DIJ.Menurutnya, kendala yang selama ini sering dihadapi adalah banyak gepeng bukan berasal dari Kota Jogja. Mereka datang dari luar Kota Jogja. “Sembilan puluh persen gepeng dari luar Kota Jogja,” kata Octo kemarin (9/2).Selain gepeng, di Kota Jogja juga ada anak jalanan (anjal). Gepeng dan anjal yang berasal dari Kota Jogja mayoritas tinggal di pemukiman kumuh di bantaran sungai. “Di daerah Bener (Tegalrejo),” jelasnya.Dinsosnakertrans Kota Jogja masih menunggu pengesahan perda tentang gepeng tersebut. Tapi, instansi itu bakal tetap melakukan penertiban.Penertiban dijalankan dengan melibatkan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Para petugas punya tanggung jawab untuk memberi pengarahan kepada orang tua dari para anjal.Selain itu, kata dia, juga diberikan bantuan intervensi bantuan sosial. “Tentunya penanganan anjal semakin maksimal menekan angka gepeng dan anjal jika rapreda sudah disahkan,” jelasnya.Ada sejumlah langkah yang ditempuh Pemkot Jogja dalam menangani gepeng. Salah satunya adalah memasang papan berisi imbauan. Papan imbauan tersebut merupakan hasil karya masyarakat.Papan imbauan hasil karya masayarakat itu cukup strategis. Papan itu juga mampu memberikan wawasan kepada masayarakat luas.Misalnya, papan yang berisi larangan pengguna jalan maupun pengendara untuk memberi uang kepada gepeng dan anjal. “Upaya pembinaan juga dilakukan dinas ketertiban dengan mengirimnya ke Panti Karya agar tidak lagi turun ke jalan dan dibina dengan pendidikan,” katanya.Kepala Seksi Rehabilitasi Masalah Sosial Dinsosnakertrans Kota Jogja Noermaniyati mengatakan, ada kegiatan yang dilakukan PSM di lokasi anjal dan gepeng. Umumnya anjal yang dapat dijangkau langsung diberikan pembinaan. Mereka juga diberikan berbagai keterampilan.Sedangkan bagi untuk anjal dari luar kota, kata dia, pemkot sudah punya kebijakan khusus. Mereka dikembalikan ke daerah asal. “Metode dengan kekeluargaan selama ini terbilang menjadi solusi untuk persoalan anjal. Program berbasis wilayah dengan melibatkan masyarakat dapat menekan angka anjal di Kota Jogja,” ungkapnya. (hrp/amd)