JOGJA – Pecahnya kelompok suporter Persiba Bantul menjadi beberapa kubu berbuntut. Dalam laga lanjutan Indonesian Super League (ISL), dua kelompok suporter The Reds yakni Paserbumi dan Curva Nord Famiglia (CNF) terlibat bentrokan besar. Akibatnya, jatuh beberapa korban.Korban paling parah adalah kalangan pejabat teras Paserbumi. Kaur Bolo Paserbumi Jupita kini terbaring dalam kondisi koma di Rumah Sakit Panti Rapih Jogjakarta. Lelaki yang akrab disapa Jupe itu terkena pukul dua kali di bagian kepala oleh massa beratribut hitam saat terjadinya bentrokan di tribun utara Stadion Sultan Agung (SSA) Sabtu (8/2). Itu terjadi saat Persiba menjamu Persiram Raja Ampat dalam lanjutan ISL 2014 wilayah timur.Lurah Paserbumi Anom Suroto, yang bersama korban pada detik-detik sebelum Jupe dilarikan ke rumah sakit, mengatakan, sepulang menonton pertandingan itu Jupe masih mampu berjalan normal. Namun, kata pria yang akrab disapa Gepeng ini, korban mengaku merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya.Sekitar pukul 19.00, Gepeng mengatakan, tiba-tiba Jupe menangis. Beberapa saat kemudian Jupe muntah-muntah. Lantas, dia tak sadarkan diri. Dia langsung dibawa ke Puskesmas Pleret.Tiba di puskesmas, tenaga medis segera memberikan pertolongan pertama pada Jupe. Tapi, meraka tak sanggup menangani. Mereka merujuk Jupe ke RS Panti Rapih. “Ya awalnya dia cuma bilang, ’Pak, aku kena ping pindo ki’. Tapi lama-lama dia menangis lalu muntah-muntah. Sekarang dia terbaring koma di rumah sakit,” tandasnya.Gepeng sangat menyesalkan kejadian ini. Terlebih, September 2014 lalu Paserbumi dan CNF sejatinya sudah menandatangani nota kesepahaman. Kebetulan Jupe adalah salah seorang perwakilan Paserbumi saat penandatanganan perjanjian damai tersebut.Berdasarkan penelusuran Radar Jogja di RS Panto Rapih, kondisi Jupe masih kritis. Puluhan anggota Paserbumi berbondong-bondong membesuk warga Desa Wonolelo, Pleret, ini.Keluarga Jupe juga berada di samping korban. Mereka terlihat membacakan ayat-ayat suci Alquran.Manajer Persiba Hanung Rahardjo mengatakan sudah mendapat keterangan dari dokter. Menurut Lurah Paserbumi ini, kondisi Jupe sangat kritis. Sebab, terdapat gumpalan darah sebanyak 200 cc di kepalanya. “Sekiranya itu keterangan yang saya dapat dari dokter. Namun saya belum bisa menjelaskan secara detail,” katanya.Kecik, salah seorang pengurus DPP Paserbumi, menceritakan bentrokan ini bermula dari pindahnya CNF dari tribun timur ke utara. Selama anggota CNF berjalan menuju tribun utara, beberapa orang melakukan provokasi. Ketika rombongan CNF sampai di tribun utara, bentrokan tak terhindarkan. “Bentrokan sendiri terjadi dua kali. Itu terjadi saat personel Paserbumi tak terlalu banyak. Pertama terjadi sebelum pertandingan di mana banyak yang belum datang. Sedangkan kedua terjadi saat bubaran. Saat sudah banyak Paserbumi yang keluar stadion. Nah Mas Jupita sepertinya kena (menjadi korban) setelah pertandingan,” terangnya.Kecik juga menjadi korban. Dia mengalami patah tulang di bagian tangan kiri. Dia diinjak-injak.Selain Kecik, korban lainnya adalah seorang perempuan bernama Rini. Radar Jogja berhasil mendapatkan foto Rini saat diinjak-injak masa beratribut hitam.Selain Rini, seorang saksi berinisial Z mengatakan, ada lagi dua korban dari penonton umum yang dibawa ke Rumah Sakit Nur Hidayah. Mereka adalah Yuda Irawan dan Agus. “Kedua korban ini hanya penonton biasa. Tapi karena memakai jersey merah Persiba. Mereka juga kena hajar,” terangnya.Carik Paserbumi Paryanto mengatakan, bentrokan ini seperti sudah ada yang mendalangi. Ia berharap peristiwa yang membuat Jupe koma ini harus diusut tuntas. “Kalau dilihat dari kronologi kejadiannya, peristiwa Sabtu kemarin seperti ada yang mendalangi. Jelas ini harus diusut tuntas,” katanya.Terpisah, Koordinator I CNF Mangasi membantah tindakan anggotanya berpindah ke tribun utara adalah sebuah provokasi. Bahkan, kata dia, aksi tersebut merupakan bentuk komitmen dari CNF untuk menaati perjanjian damai yang sudah ditandatangani kelompok mereka dengan Paserbumi. “Justru tindakan kami pindah ke utara adalah untuk membuktikan kalau CNF bisa berdampingan dengan Paserbumi,” tuturnya.Mangasi juga membantah CNF yang memulai tawuran tersebut. Saat CNF sedang melakukan koreografi, kata dia, banyak anggota mereka yang mendapat lemparan batu. “Sekarang mana ada yang terima dilempari batu seperti itu. Niat kami baik tapi mereka malah seperti mengusir kami,” terangnya.Mangasi mengaku tidak keberatan jika nantinya Paserbumi dan CNF kembali dilebur.Hanya, dia ingin peleburan tersebut memunculkan wadah baru. “Bukan CNF bergabung dengan Paserbumi atau sebaliknya. Yang kami ingin fusi ini benar-benar memunculkan kelompok baru,” tegasnya. (nes/amd)