JOGJA- Sikap warga Jalan Suryatmajan menolak revitalisasi kompleks Kepatihan agaknya sudah bulat. Alasannya, proyek revitalisasi yang mengubah arah pintu gerbang Kepatihan bakal menggusur permukiman mereka.Sebagai wujud penolakan itu, warga sejak dua hari lalu telah memasang sejumlah spanduk di depan rumah atau tempat usaha mereka di sepanjang jalan tersebut.”Kami tetap menolak keras rencana revitalisasi kompleks Kepatihan yang akan menggusur tanah dan rumah kami,” ungkap Ketua Paguyuban Warga Suryatmajan Niniek Wijayanti kemarin (9/2).Menurut Niniek, tanah dan bangunan yang ditempati sah milik mereka. Itu dikuatkan dengan alas hukum yang mereka kantongi. Alas hukum itu dikeluarkan oleh lembaga pemerintah yang legal.”Proyek revitalisasi itu harus ditinjau ulang karena meresahkan masyarakat,” ungkapnya.Sekretaris Paguyuban Warga Suryatmajan Deddy Effendy menambahkan, keresahan itu telah berjalan lebih dari setahun. Proyek pemindahan gerbang Kepatihan itu bukan hanya menggusur penghuni dan pemilik tanah Jalan Suryatmajan. Namun juga mereka yang mencari nafkah di kawasan yang berada persis di selatan kompleks Kepatihan tersebut.”Mereka jumlahnya ratusan orang. Mulai karyawan took, tukang parkir, pedagang asongan, kaki lima dan lainnya. Betapa banyak korban yang akan terancam,” keluhnya.Dari pengamatan Radar Jogja, ada sekitar 30 spanduk dipasang di sepanjang Jalan Suryatmajan. Spanduk-spanduk tersebut ditempelkan di depan rumah atau tempat tinggal mereka masing-masing.Sejumlah spanduk tersebut mengatasnamakan Paguyuban Warga Suryatmajan. Spanduk-spanduk itu menggunakan warna dasar merah.Ada spanduk yang intinya meminta agar pemprov meninjau ulang ulang proyek revitalisasi gerbang Kepatihan tersebut. Mereka juga ingin pemprov menghormati dan melindungi hak milik mereka.Juga spanduk bertuliskan yang menegaskan tanah yang mereka tempati merupakan tanah milik turun temurun sehingga akan dipertahankan sampai kapan pun.”Takhta untuk Rakyat. Danais Jangan Dipakai untuk Menggusur Rakyat Kecil,” demikian bunyi spanduk yang terpasang di depan took topi, sabuk, tas dan lainnya.Selain itu, ada pula spanduk yang mengingatkan agar tanah yang mereka tempati jangan direbut. “Kami Tak Mau Jadi Korban Pembangunan,” begitu tulis spanduk itu. (mar/kus/amd)