Pasar Darurat Semin Dinilai Terlalu Kecil
SEMIN – Korban kebakaran Pasar Semin yang terjadi pada 1 Januari 2014 mengeluh. Sebab pasar darurat yang dibangun pemerintah pada 5 Februari 2014 dinilai terlalu kecil. Alasan lain, para pedagang sudah terlanjur menyewa kios di komplek pasar. Akhirnya, mereka enggan pindah ke pasar darurat.Salah seorang pedagang, Robert mengatakan, sempitnya ukuran los membuat dirinya kesulitan menyimpan semua barang dagangan. Apalagi, jauh hari sebelum pasar darurat dibangun dia sudah lebih dulu teken kontrak sewa kios seharga Rp 7 juta setahun.untuk empat orang. Saya pilih berjualan di kios yang saya sewa saja daripada pindah pasar darurat,” kata Robert kemarin (9/2).Hal senada disampaikan pedagang lain, Riyanto. Dia mengungkapkan, sudah menyewa tempat berjualan hingga tiga bulan ke depan. Untuk itu dirinya akan berjualan di lokasi yang disewanya terlebih dahulu hingga masa sewanya habis.”Tapi kalau pindah ke los darurat khawatir akan kehilangan pelanggan. Sebab, banyak pembeli tidak tahu lokasinya,” terangnya.Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Gunungkidul, Widagdo mengaku sebelumnya sudah melakukan sosialisasi kepada para pedagang sebanyak tiga kali. Namun, belum semua pedagang mau pindah. “Sudah ada sekitar 50 pedagang yang mau pindah. Selebihnya belum,” katanya.Dia mengungkapkan, kondisi pasar darurat memang tidak seluas pasar lama yang hangus terbakar. Diharapkan kepada para pedagang bisa mengerti dan memahami kondisi pascaterjadi musibah kebakaran. ” Namanya pasar darurat, kondisinya pasti berbeda dengan pasar asli,” ucapnya.Mengenai pembangunan pasar Semin, Widadgo menyatakan tahun ini akan dibangun los menggunakan dana Pemprov DIJ sebesar Rp 1,5 miliar. Selain itu, pemkab juga mengajukan proposal kepada pemerintah pusat sebesar Rp 19 miliar.”Harapan kami, proposal disetujui sehingga bisa digunakan untuk pembangunan pasar Semin,” harap dia. (gun/iwa)