MUNGKID – Keretakan sabo dam oprit di perbatasan Desa Srowol, Kecamatan Mungkid dan Adikarto, Kecamatan Muntilan disesalkan berbagai pihak. Keretakan yang mengakibatkan ditutupnya akses ruas jalan tersebut, memaksa jalur penghubung dua kecamatan ditutup. Para pengguna akses jalan tersebut berharap keretakan sabo dam segera mendapat perhatian.Di lokasi sabo dam, terpampang barikade dari Satlantas Polres Magelang. Kendaraan roda empat dilarang melalui sabo dam oprit. Karena, bila dilalui kendaraan roda empat, keretakan sabo dam semakin melebar dan membahayakan pengguna jalan.”Kalau ditutup seperti ini masyarakat yang dirugikan,” ungkap Kepala Desa Adikarto Edi Nurhasan, kemarin (9/2).Dengan begitu, ia meminta sabo dam segera ditangani. Sehingga, akses jalan bisa kembali dibuka.”Sabo dam oprit ini merupakan salah satu dambaan warga dua desa, setelah jembatan yang lama hanyut diterjang lahar dingin pada 2011,” imbuhnya.Kini, akibat ditutupnya akses tersebut, kendaraan roda empat terpaksa memutar balik dari arah Mungkid ke Muntilan. Sebaliknya, dari arah Muntilan ke Mungkid banyak yang memutar balik. Kendaraan roda empat harus memutar melalui ruas Jalan Magelang-Jogakarta lewat Desa Pabelan. Sementara, kendaraan roda dua masih bisa melewati jembatan gantung darurat Srowol.Edi menjelaskan, selain berfungsi sebagai akses penduduk, jembatan oprit juga berfungsi sebagai jalur pintas menuju pusat pemerintahan di Mungkid. Serta, sejumlah objek wisata. Seperti Candi Mendut dan Candi Borobudur. Terlebih, kendaraan roda empat harus memutar 15 kilometer melalui jalur utama.Keinginan dibuka dilontarkan Sukri, penduduk Dusun Kalangan, Adikarto, Muntilan. Pria berusia 65 tahun ini mengaku, retaknya sabo dam oprit membuatnya kecewa. Lantaran, akses ke Kecamatan Mungkid dan Borobudur, sedikit terganggu.Keretakan sabo dam Srowol itu diduga karena dilalui truk galian C yang melebihi tonase. Sabo dam oprit di Sungai Pabelan mengalami retak selebar satu sentimeter, melintang di atas sabo.Tepatnya keretakan di dua titik bagian sambungan. Padahal, sabo dam dengan nilai proyek Rp 13 miliar itu baru dioperasikan 1,5 bulan lalu.Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Gunung Merapi Dwi Purwantoro menduga karena sering dilewati truk pengangkut pasir yang melebihi tonase, sabo dam mengalami retak. Dari informasi warga, setiap hari ada 120 truk pasir Merapi yang melintasi sabo dam Srowol.”Padahal kontruksi sabo dam ini bukan untuk angkutan berat. Maksimal hanya dilalui kendaran berkapasitas 8 ton,” katanya, saat meninjau kerusakan.Dwi menyayangkan kenekatan para sopir truk pasir. Ssebenarnya biaya untuk merawat dan memperbaiki sabo dam sangat mahal jika dibandingkan dengan membangun. Kini, retakan yang berada di permukaan nampak ditutup dengan acian semen. Sesuai rencana, ia menutup sementara akses tersebut selama dua minggu. Selama penutupan, pihaknya melakukan perbaikan dengan sistem grouting. Yakni menambal keretakan.”Grouting mulai dilaksanakan pada Senin (hari ini, Red),” katanya.(ady/hes)