MAGELANG – Dukungan menjadikan (Alm)Fuad Muhammad Sjafruddin alias Udin sebagai Pahlawan Nasional atau Pers dikumandangkan dari Magelang. Kali ini, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang menyatakan, melalui aksi damai dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2014.Mereka memulai aksi dari Kampus I UM Magelang Jalan Tidar 21 Kota Magelang ke Tugu Adipura yang berjarak 500 meter.”Melalui Peringatan HPN 2014, kami meminta agar pemerintah mengangkat Udin sebagai Pahlawan Pers Nasional,” kata Ketua LPM UMMagelang, Eko Bayu Pambudi, kemarin (10/2).Berbagai poster dan tulisan dukungan dibawa mahasiswa. Tidak lupa mereka membawa 16 foto Kapolda DIJ yang sejak 1996 belum bisa menuntaskan dugaan pembunuhan dalam kasus Udin. Padahal pada 17 Agustus 2014 adalah batas waktu kadaluwarsa kasus tersebut.”16 Kapolda DIJ telah gagal mengungkap dan menuntaskan kasus Udin. Kami meminta Presiden SBY memerintahkan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman menarik kasus ke Mabes Polri, sebelum habis masa kadaluwarsa. Lebih dari itu, PWI, AJI, dan organisasi profesi wartawan lainnya agar bersatu agar pengungkapan kasusnya dan proses menjadikan Udin sebagai Pahlawan Pers Nasional,” teriak Eko.Selain kasus Udin, Pers Mahasiswa berharap HPN, merupakan momen untuk “Stop Kekerasan terhadap Wartawan”. Mengingat wartawan dalam menjalankan profesi dilindungi Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.”Dari data yang ada, sepanjang 2013 ada 40 kasus kekerasan terhadap jurnalis. Pada 2012 kekerasan yang dialami wartawan mencapai 51 kasus. Kekerasan yang cukup tragis menimpa wartawati Paser TV di Kalimantan, Noormila Sari Wahyuni. Ia tidak sampai tewas, melainkan mengalami keguguran, setelah dianiaya perangkat desa Rantau Panjang saat meliput sengketa lahan pada 2 Maret 2013. Bahkan, pada Januari 2014, wartawan Riau Pos, Lukman Prayotno dipukul Satpam saat peliputan. Ini semua harus dihentikan,” ungkap Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Damai, Wahyu Setiawan Nugroho.Dalam kegiatan ini, ada aksi teatrikal yang dilakukan tiga mahasiswa.Yaitu, Miftahul Ulum, Roni, dan Leo. Mereka menggambarkan kekerasan oleh aparat terhadap wartawan. Jurnalis tidak hanya dilarang meliput, tetapi mengalami pemukulan.”Tindak tegas aparat ataupun siapa pun yang masih melarang peliputan. Juga melakukan aksi kekerasan terhadap wartawan,” tegas Wahyu.Aksi damai juga memasang gambar Udin sebagai background, ditutup tabur bunga yang bercampur kartu pers. Kemudian dilanjutkan dengan mengheningkan cipta, agar tidak terulang kekerasan terhadap wartawan dan bagi mereka yang mengalaminya agar diberi kekuatan.”Kami berharap, pers dan wartawan profesional juga harus mawas diri dan tetap menjunjung tinggi etika profesi. Kami sadar, wartawan masih banyak yang belum digaji secara professional oleh perusahan,” tegasnya.(dem/hes)