JENDELA DUNIA : Salah seorang pengunjung sedang menikmati koleksi buku-buku di perpustakaan desa.

Menengok Nasib Perpustakaan Desa di Bantul
Keberadaan perpustakaan yang representatif dengan pilihan ribuan buku di pelosok-pelosok desa masih minim. Salah satunya akibat minimnya suport pemerintah.
ZAKKI MUBAROK, Dlingo
Saat ini, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo sebagai salah satu dari 75 desa se-Bantul yang memiliki perpustakaan desa. Total desa se-Bantul yang memiliki sarana untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat tersebut baru sekitar 40-an.”Berdasarkan survei pada tahun 2013 ada 45 hingga 50 desa,” sebut Kepala Perpustakaan Umum Bantul Suprianto usai acara peresmian launching perpustakaan desa dan Sandigita di Balai Desa Dlingo Minggu (9/2).Itu pun tidak semuanya aktif. Ada sejumlah perpustakaan desa yang mandeg karena menemui sejumlah kendala. Kendala utama adalah soal pembiayaan.Suprianto mengakui anggaran dari pemerintah sangat terbatas. Pada tahun lalu perpustakaan umum pernah mengajukan dana stimulan sebesar Rp 12,5 juta untuk masing-masing dari 60 desa. Hanya, anggaran untuk biaya operasional tersebut ditolak.”Pada ABPD 2014 kita hanya mendapatkan anggaran sekitar Rp 436 juta untuk menggerakkan kembali tradisi membaca masyarakat,” ungkapnya.Anggaran itu dialokasikan untuk berbagai kegiatan di 11 desa terpilih dari sejumlah kecamatan. Antara lain, Bambanglipuro, Srandakan, Pajangan, Kasihan, Pandak, dan Dlingo. Sebelas desa tersebut sengaja dipilih karena berbagai alasan.”Karena di desa tersebut mudah dipantau, dan ada pegawai kami (perpustakaan umum) di desa tersebut,” jelasnya.Menurut dia, berbagai kegiatan yang rencananya akan diselenggarakan mulai tanggal 9 Februari hingga 11 Maret ini berupa lomba mewarnai, dan cerdas cermat. Harapannya, masyarakat, terutama anak-anak tertarik untuk mendatangi perpustakaan desa.Suprianto berpendapat dibutuhkan kepedulian dari stakeholder untuk mewujudkan perpustakaan representatif di pelosok-pelosok desa. Dari penelusuran pihak Perpustakaan Umum, sebanyak 40 perpustakaan desa masih bisa aktif karena kesadaran perangkat desa, beserta masyarakatnya. “Semuanya dilakukan secara swadaya,” jelasnya.Sejatinya, lanjut Suprianto, selain mengajukan anggaran, Kantor Perpustakaan Umum juga telah mengajukan bantuan sebanyak seribu buku kepada pemerintah provinsi. Hanya, hingga kini bantuan tersebut belum terealisasi.Ketua Perpustakaan Sendang Kamulyan Vitandari Vida Cahyani bercerita, perpustakaan Desa Dlingo dapat berdiri karena swadaya perangkat desa, dan masyarakat. Mereka rela menyumbangkan berbagai koleksi buku kesayangan mereka demi berdirinya perpustakaan desa yang diberi nama Sendang Kamulyan itu. Alhasil, sementara ini terkumpul 600 judul buku. Mulai sastra, agama, sains, hingga filsafat. “Tenaga pengelolanya ada lima orang. Sebagian mereka tenaga honorer di desa,” tuturnya.Perempuan berjilbab ini menyadari minat baca masyarakat Desa Dlingo masih rendah. Karena itu, para pengelola perpustakaan akan berupaya untuk menarik minat baca masyarakat. “Katanya nanti juga akan dibuatkan semacam gazebo. Biar masyarakat nyaman membaca. Perpusatakan sini akan buka pada Senin hingga Jum’at. Mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00,” ungkapnya.Wakil Ketua I DPRD Bantul Surotun berjanji akan mendukung upaya penambahan anggaran untuk pengembangan perpustakaan desa. Meski begitu, politikus PAN ini juga menyadari seluruh anggaran tidak dapat diakmodasi. “Karena anggaran terbatas. Tetapi kami sepakat untuk memajukan perpustakaan,” tegasnya.(*/din)