JOGJA – Selain premium dan solar, para pengguna kendaraan di DIJ sudah banyak yang beralih menggunakan pertamax. Kondisi tersebut terlihat dari tren pertumbuhan penggunaan pertamax yang tumbuh sekitar 25 persen pada 2013 lalu. Diharapkan pada tahun ini penggunaan pertamax bisa naik lagi.Sales Representatif Pertamina DIJ Fanda Crismianto menjelaskan secara keseluruhan, tren penggunaan pertamax terus tumbuh tiap tahun. Tapi selama 2013 lalu pertumbuhannya paling terlihat menonjol. Menurutnya hal itu disebabkan dengan penerapan peraturan ESDM mengenai pengendalian BBM. “Kalau 2012 lalu kan hanya beberapa bulan karena peraturannya juga baru keluar tengah tahun,” terangnya baru-baru ini.Melalui aturan tersebut, pembatasan penggunaan premium dan solar bersubsidi ditujukan untuk kendaraan dinas. Yaitu mencakup semua jenis kendaraan bermotor yang dimiliki atau dikuasai oleh instansi pemerintah, baik provinsi, kabupaten dan kota, BUMN serta BUMD. Serta pembatasan untuk transportasi laut meliputi kapal barang nonperintis dan kapal barang nonpelayaran rakyat.Meskipun demikian, pihaknya mengakui pengawasan Permen ESDM belum bisa optimal. Untuk itu, pihaknya juga terus melakukan pengawasan penyaluran konsumsi BBM bersubsidi. Salah satunya lewat teknologi radio frequency and identification (RFID). Melalui teknologi RFID ini nantinya pengawasan bisa by system. Saat ini uji coba RFID baru dilaksanakan di Jabodetabek. “Selama ini kan masih mengandalkan operator di lapangan,” ujarnya.Selain itu, pertumbuhan penggunaan pertamax disinyalir juga seiring dengan terus bertambahnya jumlah kendaraan baru di DIJ. Beberapa kendaraan, terutama untuk keluaran terbaru biasanya lebih menggunakan pertamax dibandingkan premium. “Mereka mampu beli kendaraan mahal, tentu juga mampu beli pertamax,” terangnya. (pra/ila)