JOGJA – Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja punya rencana untuk mengembangkan Panti Karya. Mereka berniat membuka layanan kontrol bagi penyandang gangguan jiwa.
Layanan ini berupa menghadirkan dokter kejiwaan yang praktik di panti yang terletak di Mergangsan, Jogja, ini. Dokter kejiwaan akan mengawasi perkembangan para pasien.
“Sebenarnya ada layanan dari kami. Tapi, hanya mengantarkan warga yang menderita gangguan jiwa ke Rumah Sakit Ghrasia dan RSJ Prof Dr Soerojo Magelang,” kata Kepala Dinsosnakertrans Kota Jogja Hadi Muhtar kemarin (10/2).
Ia menjelaskan, program layanan yang ada saat ini baru sebatas mengantarkan warga yang gangguan jiwa sampai ke rumah sakit. Sepulang mereka dari rumah sakit, Dinsosnakertrans Kota Jogja belum memiliki program lanjutan.
“Setelah mereka pulang atau kembali dari rumah sakit, nantinya bisa dirawat jalan di sana (di layanan kontrol Panti Karya),” jelasnya.
Layanan kontrol ini, terang Hadi, terbuka untuk masyarakat. Hanya, ujarnya, pasien kontrol biasanya diantarkan oleh keluarga.
“Kalau gelandangan atau orang gila di jalan, itu akan dirazia Satpol PP. Kemudian dibawa ke Panti Karya ini,” tambah Hadi.
Dari penelusuran Radar Jogja, penanganan penderita gangguan jiwa ini masih parsial. Pemkot Jogja belum memiliki program penanganan yang komprehensif sampai mereka sembuh. Padahal, penderita gangguan jiwa ini biasanya sulit untuk diterima saat kembali ke masyarakat.
Salah satu contohnya adalah Sumarsilah, 54. Warga Mranggen, Prenggan, Kotagede, ini menderita gangguan jiwa. Ia mengalami depresi yang begitu berat. Itu membuatnya memilih untuk mengasingkan diri dari masyarakat.
Jika dibantu tetangga, Sumarsilah menolak. Dia tidak menerima bantuan tersebut dengan tangan terbuka. Ia malah melempari tetangga yang hendak membantu dengan benda apa saja yang ada di dekatnya. Bahkan, dia juga pernah melemparkan tinja ke rumah tetangga.
Di Suryowijayan juga ada penyandang gangguan jiwa. Dia adalah Ridho Abdulah, 22.
Ia menderita gangguan jiwa sudah sejak beberapa tahun silam. Jika sakit psikisnya kumat, dia kerap merusak benda apa saja yang ditemui.
“Kalau minta tidak dituruti, pasti ngamuk,” tutur Binarto, sang ayah.
Binarto mengaku juga pernah mengalami gangguan jiwa sama seperti anaknya. Itu terjadi sekitar 20 tahun silam. “Mungkin turun dari saya. Sudah ada bibit. Kemudian (Ridho) sakit hati karena putus pacaran. Akhirnya sampai seperti ini,” imbuhnya.
Ridho terbilang lebih beruntung dari Sumarsilah. Ia tetap mendapatkan pemeriksaan kesehatan jiwa.
Itu dia peroleh setelah ada bantuan dari Budy Setyagraha Foundation. Pengurus dari yayasan tersebut mengantarkan Ridho ke RS Ghrasia.
“Ini adalah soal kemanusiaan dengan sesama. Kami berikan bantuan dari mulai mengantar ke RS Ghrasia sampai Mas Ridho ini sembuh,” tutur perwakilan Budy Setyagraha Foundation Budi Priyono.
Ia menyatakan, Budy Setyagraha Foundation memiliki perhatian terhadap seluruh permasalahan di masyarakat. Termasuk warga yang mengalami gangguan jiwa.
“Kami tidak membeda-bedakan. Siapa yang butuh, kami mampu bantu, kami akan bantu,” ujarnya. (eri/amd)