PBTY Jembatan Ketandan Jadi Tujuan Wisata
JOGJA – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) kembali dihelat. Pembukaan kegiatan yang rutin digelar sepekan sebelum dan berakhir tepat saat perayaan Cap Go Meh ini berlangsung semarak di Kampung Ketandan, Jogja, tadi malam (10/2).
Pembukaan ditandai Wakil Gubernur DIJ Paku Alam IX memecutkan cemeti sebanyak tiga kali. Itu merupakan simbolisasi memasuki tahun Imlek 2565 ber-shio kuda berelemen kayu.
Wagub di damping para ketua dari 14 paguyuban Tionghoa. Mereka tergabung dalam Jogja Chinese Art Culture Centre (JCACC).
“Dalam kesempatan pekan budaya ini, saya menantang para seniman Tionghoa agar terpanggil untuk menggarap karya cipta seni sebagai wujud akulturasi budaya abad 21,” ujarnya Wagub.
Dia berharap kegiatan ini dapat membuka sekat-sekat sosial budaya. Termasuk mendobrak dinding pemisah.
PBTY IX 2014 dijadwalkan berlangsung selama sepekan hingga 14 Februari. Mengusung tema PBTY Melestarikan Budaya, Meneguhkan Keindonesian, acara ini mengolaborasikan budaya Tionghoa dengan budaya Jawa. Ada pula berbagai budaya lokal lain yang merupakan aset bangsa Indonesia.
Ketua Umum PBTY IX 2014 Tri Kirana Muslidatun mengatakan, tahun ber-shio kuda berelem kayu ini dipercaya mendatangkan rezeki dan manfaat. Demikian halnya dengan penyelenggaraan PBTY kali ini. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara nyata. Salah salah satunya manfaat dalam dunia pariwisata Jogja dengan mengangkat Kampung Ketandan sebagai destinasi wisata.
“Bersama-sama dengan paguyuban yang ada, kita juga angkat Kampung Ketandan ini menjadi tujuan wisata. Tidak hanya saat pekan budaya,” ujar istri dari Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti itu.
Selama sepekan, PBTY 2014 tidak hanya menampilkan berbagai budaya Tionghoa. Serangkaian budaya lokal juga dapat dinikmati masyarakat.
Dalam pembukaan tadi malam ditampilkan tari kolaborasi Mandarin dan Jawa karya Didik Ninik Thowok. Seniman tari ini juga tampil berkolaborasi dengan seniman asal Taiwan yakni Jhen Shyu. Mereka membawakan karya berjudul Gitar Bulan dan Tarian.
Di panggung utama, terdapat dekorasi kuda dengan dominasi warna merah. Panggung tersebut juga menampilkan karya-karya seni tari Nusantara dari para pelajar berbagai daerah di Jogjakarta.
Selama sepekan PBTY bakal dimeriahkan berbagai sajian lagu, musik, dan tari. Sajian itu ditampilkan bergantian mulai pukul 17.30.
Seni pertunjukan yang khas Wayang Potehi pun siap dipertontonkan. “Bazar kali ini lebih meriah dengan hadirnya 97 stan yang menyajikan aneka kuliner khas Tiongkok dan masakan Indonesia. Ada pernak-pernik, konsultasi feng shui, pengobatan Tiongkok bersama sinshe, dan lain sebagainya,” ujar Ana, sapaan Tri Kirana.
Diampu oleh Perhimpuan Hing An, PBTY 2014 ini diharapkan menjadi jembatan untuk membawa PBTY dikenal lebih luas oleh masyarakat. Panitia pun berkomitmen merangkul anak muda terutama pelajar.
“Ke depan rencananya akan kita adakan lomba dance yang pesertanya adalah remaja. Agar PBTY lebih dikenal masyarakat, khususnya remaja,” ujar Ketua Perhimpunan Hing An
KS Piniawati.
Setiap hari di arena PBTY 2014 juga dijadwalkan ditampilkan atraksi liong samsi dan naga barongsay setiap harinya. Ada pula lomba karaoke, baca cerita Mandarin, dan lomba tari nuansa Mandarin yang dapat menjadi wadah para pelajar mengekspresikan karyanya.
Seperti pelaksanaan tahun lalu, PBTY juga akan dimeriahkan karnaval dan kirab budaya. Rencananya kegiatan ini digelar 13 Februari mulai pukul 18.00. Rutenya dari Titik Nol Kilometer. “Ada juga Jogja Dragon Festival ketiga,” jelasnya. (dya/amd)