Bencana alam yang melanda sejumlah daerah di Indonesia mengundang keprihatinan banyak pihak. Termasuk sejumlah seniman perupa Jogjakarta yang tergabung dalam Posnya Seni Godod, Yayasan Lingkar, Sekata, SMSR, dan Ilmu Giri. Peduli kepada korban bencana, mereka menggelar pameran amal.DWI AGUS, JogjaBencana seolah akrab dengan negeri ini. Bencana terjadi di banyak daerah. Gunung Sinabung di Sumatera Utara meletus. Banjir sempat terjadi di berbagai daerah. Ada banyak warga yang mengungsi.Bencana yang terjadi tersebut mengundang empati sejumlah seniman perupa di Jogjakarta. Mereka berusaha memberikan bantuan melalui cara mereka sendiri.Selasa malam (11/2) bertempat di lobi Hotel Duta Wisata 1 Jogjakarta, para seniman itu menggelar pameran. Pameran bertajuk Laga Rupa Bencana ini memajang karya dari 57 seniman lintas generasi.Pameran ini mendapatkan apresiasi Kepala Dinas Kebudayaan DIJ GBPH Yudaningrat. Bahkan, figur yang akrab disapa Gusti Yuda itu hadir saat pembukaan. “Pameran lukisan seperti ini tentunya sangat istimewa. Terdapat unsur kemanusiaan. Seniman mampu membuktikan bahwa peduli kepada sesama itu sangatlah penting. Membantu ala seniman dengan mengadakan pameran dan hasil penjualannya disumbangkan tentunya patut diapresiasi,” kata Gusti Yuda.Pameran yang rencananya diadakan hingga 19 Februari ini memiliki keragaman goresan para pelukisnya. Begitu beragam.Keberagaman itu sangat mungkin dipengaruhi cara menggalang seniman yang ingin berpartisipasi. Partisipan pameran ini dikumpulkan hanya melalui getok tular.Godod Suteja, salah seorang penggagas pameran ini, menyatakan, undangan berpameran disebarkan melalui pesan singkat lewat telepon genggam (short message service/SMS). Dia menambahkan, awalnya seniman perupa yang berpartisipasi ada 40 orang. Sehari menjelang pembukaan, jumlah peserta bertambah. Totalnya menjadi 57 seniman,” ujarnya lantas tersenyum.Dalam pembukaan, beberapa karya lukisan terjual. Lukisan-lukisan itu antara lain karya Ledek Sukadi, Rujiman, Yunus, dan Semi K. Swara. “Hasil dari penjualan ini 50 persen disumbangkan untuk donasi bencana. Sumbangan ini akan diberikan kepada korban bencana alam yang terjadi belakangan ini. Langkah awal akan disalurkan ke korban bencana yang dekat Jogjakarta dahulu,” kata Godod.Konsep dari pameran ini adalah hasil urun rembug. Ide awal berasal dari para seniman perupa yang berpandangan seniman bukan sekadar berkarya. Karya yang dihasilkan mesti dapat berguna bagi sesama.Untuk menjadikan pameran ini efektif, mereka melibatkan Yayasan Lingkar. Yayasan tersebut konsen pada bidang lingkungan hidup, budaya, dan pendidikan.Kepala SMSR Rakhmat Supriyono berharap penggalangan dana melalui pameran ini bukan sekadar kegiatan latah. “Harapannya benar-benar dapat membantu meringankan beban sebagian kecil korban bencana alam di tanah air,” kata dia.Pameran ini juga menerapkan konsep unik dalam hal kuratorial. Godod menjelaskan, setiap lukisan yang dipamerkan melalui tahap kurasi dari penyelenggara. Kurasi dilibatkan seniman lintas generasi.Menurutnya, kurasi yang meloloskan lintas generasi ini merupakan salah satu wujud regenerasi seniman perupa. Dia sadar potensi generasi muda perlu dimatangkan. “Kalau didominasi seniman itu-itu saja, lalu kapan waktunya yang muda bisa berkembang. Pameran bisa dijadikan sebagai ajang pembelajaran dan mencari bibit baru. Dengan diberikan kesempatan maka bakat semakin terasah,” kata Godod.Selain karya para seniman, pameran ini juga memberikan ruang bagi karya para siswa SMSR, mahasiswa ISI, UNY, UST, dan beberapa perguruan tinggi lain. “Pameran ini tindak lanjut dari melukis bersama di lereng Gunung Merapi Januari lalu,” kata dia. (*/amd)