Melihat Kesenian Tradisional Turonggo Sarasjiwo
Di setiap acara resmi pemerintahan, sering ditemui hiburan kesenian tradisonal. Biasanya, antara gamelan dan penari terlihat kompak. Tetapi ini tidak berlaku saat melihat kesenian tradisional dari Turonggo Sarasjiwo. Gerak emain dan suara gamelan sulit berpadu. Ini harus dimaklumi, karena mereka para pemain adalah orang yang masih terjangkit penyakit jiwa.
ADI DAYA PERDANA, Mungkid
Sejumlah penari berjajar rapi di hadapan tamu undangan. Mereka mempersiapkan diri menari sesuai irama gamelan. Di antara penari, terkadang terlihat menggerakan tangan dan badannya, tidak sesuai gerakan penari lainnya.
Itu sedikit penampilan yang terlihat saat peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Hotel Pondok Tingal Borobudur, beberapa waktu lalu. Para penari sering menggerakkan badan, tidak sesuai suara gamelan. Kadang, mereka saling berlawanan dengan penari lain, ketika menari.
Mereka para penari merupakan merupakan pasien Rumah Sakit Jiwa Dr Soerojo Kota Magelang. Mereka tampil di antara tamu-tamu penting. Seperti kepala daerah, kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD), hingga anggota DPR. Melihat gerakan tari yang ditampilkan, tak jarang para tamu tertawa sendiri.
Selain bentuk pementasan kesenian, ini oleh rumah sakit jiwa menjadi bagian dari pengobatan pada pasiennya. Para pasien sakit jiwa diajak bermain kesenian tradisional. Seperti, jathilan, topeng tembem, dan buto.
Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RSJ Dokter Soerojo Kota Magelang Sri Haryanti mengatakan, cara ini diyakini ampuh membantu proses penyembuhan penyakit jiwa pasiennya. Melalui kesenian, pasien lebih terbuka pada dokter, keluarga, maupun masyarakat lain.
“Sehingga mudah diberikan pengobatan,” katanya.
Berbagai cara dilakukan menyembuhkan orang yang sakit jiwa. Nah, RSJ Dr Soerojo Kota Magelang mempunyai cara berbeda untuk menyembuhkan pasiennya. Salah satunya, mengikutkan mereka berkesenian. Kelompok kesenian yang ada dinamai Turonggo Sarasjiwo.
Menurut Haryanti, melalui gerakan tari seperti itu, bisa menambah kepercayaan diri para pasien. Suara musik gamelan juga dinilai bisa meredam emosi para pasien. Sehingga, pasien lebih mudah mengeluarkan ekspresi diri.
Bagi Haryati, para pasien yang terlibat dalam kesenian tradisional tak ada batasan. Bagi pasien yang mau ikut, dipersilahkan bergabung. Meski begitu, melatih para pasien tak semudah yang dibayangkan.
“Sering ditemui pasien yang sebelumnya ikut latihan menari, tiba-tiba saat mau pentas ternyata tidak mau. Ini merupakan salah satu kendala kami,” katanya.
Dari berbagai penampilan, ia mengaku sering berkeliling berbagai kota di Indonesia. Turonggo Sarasjiwo sering mendapat undangan tampil di berbagai acara bergengsi. Di antaranya, saat acara pekan olahraga dan kesenian rehabilitasi mental yang rutin diadakan di berbagai Kota di Indonesia.
Pelatih tari Eko Sunyoto mengatakan, kesenian diajarkan dan dilatihkan pada rehabilitan untuk menjaga kesenian sebagai bentuk dari hasil budaya nenek moyang. Menurut Eko, terapi melalui media kesenian ini juga merupakan terapi dengan pendekatan kebudayaan.
“Terapi dengan kesenian diharapkan para rehabilitan bisa bersosialisasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Begitu pula sebaliknya masyarakat luas bisa menerima kembali keberadaan para pasien,” jelasnya. (*/hes)