EKSTENSOMETER: Penyerahan bantuan peralatan tanggap bencana dari BPBD DIJ ke BPBD Kulonprogo (12/2).
WATES – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta akan memasang ekstensometer atau alat pendeteksi gerakan tanah. Alat itu akan dipasang di dua desa yang di kawasan Pegunungan Menoreh, Kulonprogo. Pemasangan alat itu sebagai pendeteksi dini mengingat potensi rawan longsor masih cukup tinggi.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulonprogo Untung Waluyo mengatakan, retakan yang disebabkan pergerakan tanah saat ini sudah diketahui titiknya. Sehingga akan dilakukan pemasangan alat tersebut.Adapun retakan tanah itu terjadi di Pedukuhan Keceme, Desa Gebongsari, Kecamatan Samigaluh, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo. Retakan tanah di lokasi tersebut terjadi dalam sepekan terakhir.”Kami bersama BPPTKG telah mengeceknya beberapa waktu lalu. Kemudian disimpulkan jika potensi pergerakan tanah masih cukup besar, jadi perlu dipasang ekstensometer,” kata Untung di BPBD Kulonprogo, kemarin (12/2).Dikatakan, sesuai pemantauan di lapangan maka lokasi itu cepat atau lambat berpotensi longsor. Selain itu koordinasi dengan kecamatan setempat juga telah dilakukan. Bahwa telah diinformasikan secara lisan untuk rekahan tanah sudah muncul dan berpotensi mengancam delapan bangunan rumah yang terletak tak jauh dari rekahan tanah tersebut.Sementara itu Sekda Kulonprogo Astungkoro menjelaskan, dalam waktu dekat pihak terkait akan melakukan pengecekan untuk memastikan apakah retakan tanah itu masih aktif atau sudah berhenti. Jika diketahui retakan tanah itu masih aktif maka dilakukan langkah antisipatif. Sedangkan dari informasi BPPTKG, pegunungan di Kulonprogo merupakan bagian dari struktur gunung berapi purba.”Untuk mengetahui apakah ada air yang masuk ke rekahan tanah, atau karena pergeseran lempeng bumi, kami akan kaji terlebih dulu,” jelasnya.Jika hasil pengkajian itu sudah dapat disimpulkan, maka akan dilakukan pemetaan wilayah itu sehingga bisa terlihat titik-titik mana saja yang berbahaya. Serta berapa jumlah warga yang perlu direlokasi.Sedangkan Kepala BPPTKG Jogjakarta Subandriyo menegaskan akan melakukan kajian lapangan. Meliputi bentuk dan kecepatan pergerakan tanah, pemantau titik kritis, dan faktor pemicunya. Hal itu masih perlu dilakukan survei dan monitoring di lapangan sebelum memasang alat deteksi pergerakan tanah.”Minggu ini dilakukan survei pemasangan. Kami uji coba dulu di lab, jika sudah fix maka tinggal dipasang di titik yang dimaksud. Harapannya alat itu bisa ditelemetrikan ke balai dan BPBD sehingga bisa dilihat grafis perkembangannya,” jelasnya.Kepala BPBD DIJ Gatot Saptadi menambahkan, tidak hanya fokus pada pemasangan alat deteksi pergerakan tanah. Tak kalah pentingnya bagaimana upaya penguatan kelembagaan serta masyarakat dalam kegiatan tanggap bencana. Dengan demikian, antisipasi bencana menjadi tanggung jawab bersama. (fid/iwa)