*Sidang Dilanjutkan Rabu Depan
MAGELANG – Gugatan perdata Herry Chandra alias Tjong Sien Hoo dan Sri Sulistyowati atas dugaan perbuatan melawan hukum (PMH) oleh Pemkot Magelang di Pengadilan Negeri (PN) Magelang berlanjut. Kali ini, dilakukan pemeriksaan barang bukti.
Pihak penggugat selaku pemilik Toko Mas Gatotkoco mengajukan 14 barang bukti. Mulai bukti pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB), nomor pokok wajib pajak (NPWP), tanda daftar perusahaan (TDP), retribusi pasar, dan lainnya. Semuanya menyebut Herry Chandra dan Sri Sulistyowati, pemilik kios Nomor 1 dan 2 Jalan Mataram.
Juga bukti berupa surat pelimpahan hak menempati kios nomor 1 dan 2 atas nama dua penggugat. Selain itu, adakartu sewa-menyewa kios nomor 1 dan 2 atas nama mereka, denah pasar sebelum dan sesudah ada kios berdikari, serta bukti lainnya.
“Sidang kali ini, agendanya penyerahan bukti dari penggugat. Tetapi ada bukti yang masih belum lengkap. Jadi agar dilengkapi untuk sidang mendatang,” tegas Ketua Majelis Hakim PN Magelang, Retno Purwandari Yulistyowati SH, kemarin (12/2).
Dua bukti yang belum bisa diterima pengadilan adalah tanda terima uang atau kuitansi cicilan kios nomor 1 dan 2 atas nama mereka, sejak 1989-1999. Pihak pengadilan meminta semua bukti yang diajukan dilengkapi materai.
“Sidang yang akan datang, selain pihak penggugat melengkapi bukti-bukti yang masih kurang. Pihak tergugat juga sekalian memberikan bukti-buktinya,” imbuh Hakim Retno didampingi dua hakim anggota, Ratriningtyas Ariani SH dan Husnul Khotimah SH, serta Panitera Pengganti Supriyanti.
Kuasa Hukum Pemkot Magelang, M Zazin SH dan Ferry Pramudiyanto Kurniawan SH sempat meminta pada majelis hakim, penyerahan barang bukti tergugat diberikan setelah pihak penggugat melengkapi barang bukti. Tapi keinginan ini ditolak.
“Tidak apa-apa. Persidangan besok bareng saja. Pihak penggugat melengkapi bukti, sekalian pihak tergugat menyerahkan bukti-bukti. Biar sidangnya cepat selesai,” tegas Hakim Retno.
Bukti lain yang diajukan penggugat adalah surat tanda terima (STT) atau tanda jadi atas nama Toko Mas Gatotkoco untuk pembayaran dua unit Toko Lantai 2 pada 7 Desember 2012.
“Bukti ini menunjukkan, klien kami telah melakukan heregistrasi dan mengikuti aturan yang ada dalam soal penempatan kembali pedagang,” imbuh Kuasa Hukum Penggugat Janu Iswanto SH dan Sadji SH.
Saat ditanya soal keberadaan bukti berupa denah los dan kios Pasar Rejowinangun sebelum adanya kios berdikari, Sadji mengaku hal tersebut perlu dilampirkan. Mengingat, kios-kios di Jalan Mataram berdiri berdasarkan Inpres Tahun 1983/1984, di mana pada ujung bagian barat masih berupa fasilitas umum. Kemudian, pada 1987, pihak swasta, dalam hal ini CV Sumber Rejeki mendirikan kios berdikari di atas tanah fasilitas umum.
“Artinya, sebelum ada pembangunan kios berdikari, sesuai Inpres tahun 1983/1984, kios paling ujung barat adalah milik klien kami,” tegas Sadji.
Sesuai keterangan Direktur CV Sumber Rejeki, Sudarmono, pembangunan kios tambahan tersebut tidak lepas dari keinginan wali kota saat itu, Bagus Panuntun, agar Kota Magelang memiliki taman bunga sebagai tempat rekreasi.
Hasil penjualan tiga kios yang dikenal dengan kios berdikari tersebut, menjadi sumber pembiayaan pembangunan taman bunga yang dikenal dengan Taman Kiai Langgeng (TKL). Kios dibangun di atas tangga atau jalan masuk sisi barat. “Kios yang dibangun hanya tiga buah,” ungkap Sudarmono.
Dalam perkembangan kasus ini, kios berdikari yang semula berjumlah tiga kios berubah jadi empat kios. Ini terungkap dalam gambar denah sebelum kebakaran sebelum milik Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Magelang.
Denah pasar sebelum terbakar sempat menjadi fokus perhatian majelis hakim. Terutama, saat pihak penggugat memberikan bukti-bukti. Sidang dilanjutkan, Rabu (19/2) mendatang.
Sengketa tersebut bermula dari perebutan kios nomor 1 dan 2 Jalan Mataram Pasar Rejowinangun. Herry Chandra, selaku Toko Mas Gatotkoco menggugat perdata Pemkot Magelang karena memberikan hak menempati dua kios ke Toko Mas Mustika, yang notabene keberadaan kiosnya bernama kios berdikari. Bukan kios utama yang merupakan produk Inpres 1983.(dem/hes)