ALOT: Pertemuan antara pedagang sunmor dengan UGM dilakukan di Gedung Pusat Studi Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, kemarin.
JOGJA – Konflik relokasi sunday morning (Sunmor) UGM antara pedagang dan pihak UGM tampaknya sulit menemui titik temu. Meski sudah berkali-kali melakukan mediasi, tidak pernah terjadi kata sepakat kedua pihak.Mediasi kedua pihak kembali digelar di Pusat Studi Kebudayaan Koenadi Hardjasoemantri, yang difasilitasi Polsek Bulaksumur. Namun, diskusi berlangsung alot sebab pedagang menolak direlokasi.Sementara UGM bersikeras pedagang harus pindah ke Jalur Lingkar Timur, Karangmalang. Sebab lokasi yang biasa digunakan pedagang saat ini untuk aktivitas olahraga.Juru bicara Himpunan Paguyuban Pedagang (Himpa) Desi Priyanto mengatakan sebagai kampus kerakyatan UGM kini semakin jauh dari rakyat. Langkah relokasi pedagang ke Jalan Lingkar Timur sebagai upaya menjauhkan UGM dengan masyarakat.Relokasi, kata Desi, memunculkan dampak sosial ekonomi yang tidak baik bagi pedagang. Sebab sebagian pedagang merasa di tempat yang baru tidak representatif seperti di tempat sebelumnya, Jalan Olahraga dan Jalan Notonegoro. “Himpa menolak relokasi yang dilakukan UGM,” kata Desi dalam pernyataannya yang dibacakan di hadapan 300 pedagang yang hadir.Wakil Rektor Bidang SDM dan Aset UGM Prof Budi Santoso Wignyosukarto menolak jika UGM dikatakan jauh dari rakyat. Relokasi pedagang UGM ke Jalur Lingkar Timur justru menguntungkan pedagang. “Sebenarnya kami mengajak masyarakat beraktivitas bersama di Jalan Notonegoro dan Jalan Olahraga. Setelah itu masyarakat bisa menikmati jajanan di Jalur Lingkar Timur,” jelasnya.Menurut Budi, UGM bisa saja membubarkan aktivitas sunmor atau melarang menggunakan nama UGM di belakang sunmor. Apalagi, saat ini kontrak antara pedagang dan UGM sudah berakhir sejak 2013. “Secara aturan, pedagang ilegal karena tidak memiliki kontrak. Secara hukum kami bisa melarang pedagang berjualan di areal kami,” jelasnya.Saat ini, UGM berupaya mendata para pedagang sunmor. Kebijakan memindahkan lokasi sunmor supaya lebih dekat dengan warga, sehingga pengelolaan lebih optimal. (bhn/iwa)