SEMOGA AWET: Sabo dam oprit diperbaiki Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) sebelum kerusakan lebih parah. Ke depan, ada larangan truk juga dilarang melintas.
MUNGKID – Harapan warga atas retaknya sabo dam oprit cepat diperbaiki ditanggapi Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Di lokasi retaknya sabo dam oprit, terlihat pekerja menambal retaknya sabo dam. Mereka tengah memasukan selang kecil di sela-sela keretakan. Selang kecil itu ditanam berdiri.
“Kami mulai melaksanakan perbaikan sejak Selasa lalu,” kata Pelaksana Teknik Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengendali Lahar Gunung Merapi BBWSSO, Heri Priyanto, kemarin (12/2).
Heri melanjutkan, sesuai rencana sabo dam yang juga berfungsi sebagai jembatan tersebut diperbaiki dengan sistem grouting atau tambal dengan lem beton. Perbaikan dilakukan dengan mengebor untuk membuat lubang yang nantinya diisi sika grout. Yaitu bahan grouting semacam lem.
“Perbaikan jembatan diusahakan selesai dua minggu sesuai jadwal,” imbuhnya.
Dijelaskan, secara teknik proses memasukkan lem beton akan dilakukan dengan menggunakan selang. Nantinya, cairan ditekan dengan menggunakan kompresor.
Sehingga, cairan masuk dan menyebar di dalam konstruksi.
“Ada empat titik retakan yang diperbaiki dengan sistem grouting. Yaitu, di ujung kiri dan kanan serta dua di tengah,” katanya.
Usai dilakukan grouting, pada sisi kanan dan kiri jembatan dibuat delatasi. Yaitu semacam celah pemisah yang berfungsi mengurangi dan mengatasi muai susut. Itu sekaligus mengatasi adanya deformasi atau naik turunnya jembatan.
“Delatasi dimaksudkan mengantisipasi pergerakan massa bangunan pada arah horizontal maupun vertical,” ujarnya.
Delatasi dibentuk dengan membuat celah atau jarak di beton jembatan dan beton oprit. Celah yang dibuat diisi dengan filler. Selanjutnya, akan ditutup dengan material semacam karet. Ini seperti yang biasa dilihat di jembatan umumnya.
Menghindari melintasnya truk-truk pasir dengan muatan overload di atas jembatan tersebut, akan dipasang portal dengan tinggi maksimal sebatas bak truk pasir. Tingginya sekitar dua meter.
“Kalau portalnya sudah jadi, akan langsung dipasang. Nanti pengawasannya akan diserahkan pada warga setempat,” katanya.
Rohmart, salah satu warga berharap jembatan segera dibuka kembali. Pria yang juga tukang andong mengaku sudah tiga tahun terpaksa mengontrak rumah akibat andongnya yang tidak bisa melintasi jembatan.
“Setiap hari, mengoperasikan andong di kawasan Candi Borobudur. Saya sendiri tinggal di Selatan Sungai Pabelan, sehingga tak bisa setiap hari pulang. Karena andongnya tidak bisa dibawa serta. Ini berpengaruh pada pendapatan saya,” aku Rohmat.
Sebelumnya, sabo dam oprit Srowol yang baru di launching BBWSSO pada Desember 2013 terpaksa ditutup kembali, mulai Jumat (7/2). Bangunan penahan laju banjir lahar dingin Merapi juga dipakai sebagai jembatan dan ditemukan mengalami keretakan di beberapa titik. Dari pantauan, keretakan yang terjadi mencapai enam meter, lebar 0,5 sentimeter, dan tinggi atau kedalaman 1,5 – 2 meter.(ady/hes)