JOGJA – Potensi tawuran antarpelajar di Jogjakarta direspons berbagai pihak. Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menyatakan gerah mendengar kabar terkait pelajar yang terlibat tawuran.Dia mengaku “marah” begitu mengetahui ada pelajar di Kota Jogja yang ditangkap aparat Polresta Jogja lantaran terlibat aksi tawuran. Yakni, ditangkapnya lima pelajar SMK Piri 1 Jogja saat hendak menyerang pelajar SMA Muhammadiyah 2 Jogja (Muha) pada Selasa (11/2).Haryadi juga terkejut saat menerima informasi ada salah seorang dari lima pelajar yang ditangkap itu membawa kondom atau alat kontrasepsi. Menurutnya, tidak semestinya pelajar membawa barang tersebut. “Sudah salah kaprah. Seharusnya tas yang dibawa itu tidak lain berisi buku. Malah senjata tumpul dan tajam serta sebuah kondom. Saya minta tindak tegas pelajar tersebut. Berikan efek jera kalau terbukti kerap melakukan tindakan melanggar hukum dan aturan sekolah,” terang Haryadi di Balai Kota Jogja kemarin (12/2).Suami dari Tri Kirana Muslidatun tersebut menilai tawuran antarpelajar masih perlu mendapatkan perhatian serius dari masyarakat. Masyarakat seyogianya segera melaporkan ke aparat berwenang jika mengetahui ada tawuran. “Bahkan, tahu ada rencana tawuran, laporkan,” tegasnya.Dia berharap ada sanksi tegas yang diberikan kepada pelajar yang terlibat tawuran. Ini perlu dijalankan agar mereka tidak mengulangi aksi serupa yang dapat merugikan orang lain.Haryadi menandaskan tidak akan memberi toleransi. Itu berlaku terhadap pelajar maupun sekolah.Khusus untuk sekolah, dia menyatakan Pemkot Jogja langsung memanggil pengelola kedua sekolah tersebut. Langkah ini ditempuh untuk mencari solusi terbaik. “Jelas kita tidak menoleransi. Kita selesaikan sebaik-baiknya,” kata dia.Pernyataan wali kota tersebut selaras dengan sikap Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja. Instansi ini langsung bergerak.Disdik memanggil kepala dari dua sekolah itu. Mereka dipertemukan untuk saling berkoordinasi. Ini sebagai bentuk pencegahan agar tawuran tak terulang di kemudian hari. “Sudah ada tindakan. Kedua kepala sekolah sudah bertemu,” kata Sekretaris Disdik Kota Jogja Budi Santosa Asrori kemarin (12/2).Budi mengungkapkan, langkah mempertemukan kedua kepala sekolah itu merupakan bentuk dari pencermatan masalah yang terjadi. Pertemuan itu diharapkan mampu menemukan jalan keluar yang benar-benar menjadi jawaban atas persoalan ini. “Sebenarnya sudah banyak kegiatan kami lakukan untuk mencegah hal itu (tawuran) terjadi,” jelasnya.Kepala Bagian Operasional (Kabagops) Polresta Jogja Kompol Iqbal Yudi memastikan kepolisian juga tak pernah berhenti berupaya mencegah tawuran. Polisi tetap menggelar patroli rutin.Kepolisian juga menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah sebagai wujud antisipasi awal. “Kami terus memantau lewat sekolah,” kata Iqbal.Bahkan untuk mencegah aksi tawuran, polresta sebenarnya telah menugaskan seorang anggota di setiap sekolah. Mereka berasal dari polsek-polsek. “Tapi, tidak stand by selama sehari di sekolah,” imbuhnya.Dia juga menegaskan pelajar yang membawa gir bertali saat pengeledahan lalu bakal menjalani proses hukum yang berlaku. “Tetap diproses,” lanjut Kepala Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polresta Jogja Kompol Dodo Hendro Kusumo.Polisi juga menerapkan wajib lapor kepada kelima pelajar yang ditangkap itu. Mrereka mesti lapor ke petugas di Mapolres Jogja dua kali dalam sepekan. “Tetap diproses,” lanjut Kepala Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polresta Jogja Kompol Dodo Hendro Kusumo. (eri/amd)