Melihat Kiprah Sulistriyawanti Haka Astana
Diam-diam Sulistriyawanti Haka Astana bukan hanya pecinta batik. Istri Brigjen Pol Haka Astana Mantika Widya yang sekarang menjabat Kapolda DIJ itu juga dikenal sebagai pegiat batik.
Itu setidaknya itu ditunjukkan dengan kepeduliannya terhadap pengembangan batik Jumputan. Bersama ibu-ibu anggota Bhayangkari, Wanti, demikian ia akrab disapa, mampu memproduksi sendiri kain batik.Bagaimana kisahnya?
Harpan Gunawan Tobing, Jogja
Sejak Desember 2013, Wanti menginisiasi berdirinya perkumpulan seni membatik dengan anggota ibu-ibu Bhayangkari di lingkungan Polda DIJ. Dari ajang kumpul-kumpul itu, mereka menghasilkan manfaat yang luar biasa.
Bila dulu mereka senang membeli kain batik Jumputan, produk khas Kampung Tahunan, Umbulharjo, Kota Jogja, maka kini kondisinya telah berubah.
Di bawah Wanti, beberapa kali diadakan pelatihan belajar membatik. Hasilnya, ibu-ibu anggota Bhayangkari telah mampu membuat sendiri batik model Jumputan tersebut.
“Membuat kain batik itu banyak manfaatnya. Di antaranya, mengurangi hal-hal yang tidak ada gunanya, seperti ngerumpi. Nilai positif membatik yang dapat kami ambil adalah melatih kesabaran, saling asah, asih, dan asuh. Juga bisa menambah pendapatan ekonomi ibu-ibu,” ujarnya akhir pekan lalu.
Pelatihan belajar membatik itu dilakukan bekerja sama dengan ibu-ibu dari Perkumpulan Sejahtera dari Kampung Tahunan. Setelah mengikuti pelatihan itu, mereka telah mampu mempraktikkan karyanya. Ada sekitar 70 karya batik yang dihasilkan ibu-ibu anggota Bhayangkari Polda DIJ. Mereka berasal dari perwakilan Bhayangkari empat polres dan satu polresta, satuan Brimob dan polwan.
Selama ini mereka cukup antusias membuat karya batik. Mereka rutin menggadakan pertemuan setiap satu minggu sekali. Untuk menghasilkan karya batik, rata-rata dilakukan dalam tiga kali pertemuan.
Dalam membuat karya, ada beberapa kendala yang ditemui. Di antaranya, selain faktor pemula, cuaca juga menjadi kendala dalam proses pengeringan kain batik.
“Maklum saja, karena ibu-ibu Bhayangkari itu masih amatir. Mereka masih pemula. Tapi, antusiasmenya luar biasa,” paparnya.
Setelah sukses membuat karya batik sendiri, Wanti bersama anggota Bhayangkari lainnya punya obsesi membuat butik yang dikelola anggota Bhayangkari se-DIJ. Butik-butik itu diharapkan tersebar di semua kabupaten dan kota se-DIJ.
“Itu menjadi impian besar yang belum terwujud,” ujarnya.
Rencananya, batik-batik Jumputan karya anggota Bhayangkari Polda DIJ itu akan dipamerkan di Jakarta. Mereka akan mengikuti sebuah bazar di ibukota.
Wanti berharap, anggota Bhayangkari tak sekadar hanya menghasilkan kain batik saja. Namun, mereka juga bisa menjahit batik-batik tersebut menjadi pakaian.
Baginya, bila semua itu tercapai, bakal memberikan dampak positif bagi organisasi Bhayangkari maupun anggotanya. Itu Dari pelatihan dan praktik membatik itu diharapkan bisa memberdayakan ekonomi anggotanya.
“Nilai positifnya juga bisa mendorong, dan menghibur suami dalam menjalankan tugas sebagai anggota polisi,” harap perempuan yang dikenal murah senyum ini. (*/kus)