Pemkot Beri Dispensasi Pedagang Tak Dipungut Retribusi
JOGJA– Pemerintah agaknya bekerja ekstra keras membersihkan abu vulkanis Gunung Kelud. Betapa tidak, untuk membiayai kegiatan bersih-bersih abu tersebut, Pemkot Jogja harus mengeluarkan biaya yang lumayan besar.
Selama tiga hari masa tanggap darurat itu sejak Jumat (14/2) lalu, pemkot telah menghabiskan anggaran sebesar Rp 1 miliar. Anggaran tersebut berasal dari pos dana tak terduga yang dialokasikan di APBD 2014 Kota Jogja. Total anggaran tak terduga mencapai Rp 3 miliar.
“Dana tak terduga sudah kami pakai sebesar Rp 1 miliar untuk kegiatan bersih-bersih, kerja bakti, dan pengadaan peralatan seperti karung. Penggunaan anggaran tersebut harus diawasi dan dipantau,” ungkap Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) kemarin (16/2).
HS menyatakan, fungsi dana tak terduga antara lain digunakan untuk penanganan bencana. Selama masa tanggap darurat itu, lanjut HS, pemkot bersama Pemprov DIJ terus berkoordinasi dan bersinergi.
Sampai sekarang kegiatan bersih-bersih abu vulkanis masih difokuskan di sejumlah jalan di Kota Jogja. Ke depan, tidak tertutup kemungkinan, kegiatan serupa bakal menyasar ke pasar-pasar tradisional.
Di antaranya, Pasar Beringharjo. Selain merupakan pasar tradisional tersebar di DIJ, Beringharjo telah menjadi ikon wisata Jogja. HS tak ingin sebagai tempat wisata belanja, Pasar Beringaharjo ikut lumpuh.
HS mengucapkan terima kasih atas inisiatif pedagang yang kerja bakti membersihkan pasar tersebut kemarin. Pemkot merasa terbantu dengan kegiatan tersebut.
Suami Tri Kirana Muslidatun itu berharapa pedagang Pasar Beringharjo kembali membuka usahanya setelah mengadakan kerja bakti. Kebersamaan pemkot dan para pedagang Pasar Beringharjo itu diharapkan dapat diikuti pedagang-pedangang di beberapa pasar tradisional lainnya di Kota Jogja.
“Banyak wisatawan kalau ke Jogja belum sah apabila tidak mengunjungi Malioboro dan Pasar Beringaharjo,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) Kota Jogja Maryustion Tonang menambahkan, untuk sementara waktu pemkot membebaskan retribusi bagi seluruh pedagang pasar tradisional. Selama ini dinlopas membawahkan 33 pasar tradisional se-Kota Jogja.
Menurut Tion, sapaan akrabnya, dispensasi itu berlansung hingga Jumat (20/2) atau selama masa tanggap darurat berlangsung.
“Para pedagang sudah dua hari tidak buka karena kondisi yang tidak mendukung. Tentunya pemasukan mereka menurun, dan bahkan rugi. Kami bantu dengan membebaskan retribusi. Kalau dihitung per hari pendapatan dari retribusi pedagang pasar mencapai Rp 40 juta,” ucapnya.
Kebijakan membebaskan retribusi itu diapresiasi kalangan pedagang. Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringaharjo Ujun Juneidi mengatakan, pembebasan retribusi itu cukup membantu.
Sebab, selama tiga hari tidak berjualan pedagang harus merugi. “Kalau dihitung untuk Pasar Beringaharjo kerugiannya mencapai miliaran rupiah,” katanya.
Masih terkait masa tanggap darurat, Gubernur DIJ Hamengku Buwono X memerintahkan dilakukan percepatan pembersihan abu vulkanis Gunung Kelud. Instruksi itu disampaikan HB X saat memimpin rapat koordinasi (rakor) bersama bupati, dan wali kota se-DIJ, Danrem 072 Pamungkas, Kajati dan Kapolda DIJ di kompleks Kepatihan, kemarin (16/2). Rakor juga diikuti semua kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov DIJ.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DIJ Gatot Saptadi menjelaskan, gubernur menargetkan Selasa besok (18/3), roda ekonomi, pendidikan, dan kesehatan bisa segera pulih. Fasilitas umum yang selama ini tak beroperasi bisa kembali berfungsi.
“Belum normal. Minimal, pasar-pasar, sekolah, rumah sakit, terminal, bandara, dan fasilitas umum lain sudah bisa beroperasi,” ujar Gatot usai mengikuti rakor.
Ia menjelaskan, perintah agar segera membersihkan fasilitas umum ditujukan kepada bupati dan wali kota se-DIJ. Mereka bakal memimpin langsung pembersihan fasilitas umum itu demi percepatan normalisasi kehidupan di DIJ.
“Teknisnya, abu yang masih menempel di jalan dibersihkan dengan disemprot kendaraan damkar (pemadan kebakaran). Yang masih menempel di genteng, dedaunan dekat fasilitas publik, disemprot,” imbuhnya.
Penyemprotan ini, lanjut Gatot, akan dilakukan serentak mulai hari ini Senin (17/2). Seluruh damkar milik kabupaten dan kota akan difungsikan menindaklanjuti instruksi tersebut.
“Semua sumber daya, dikerahkan. Kami juga telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri. Mereka siap mengerahkan kendaraan dan pasukan,” tuturnya.
Tidak hanya kepada birokrat. Gubernur juga mengharapkan adanya partisipasi masyarakat agar mengadakan kerja bakti massal.
Kerja bakti ini menyasar fasilitas umum di masyarakat seperti masjid, jalan perkampungan, dan fasilitas lain. Demikian pula untuk membersihkan genting dan dedaunan.
“Untuk alat penyemprotnya, bisa menghubungi langsung damkar di masing-masing wilayah (kabupaten dan kota). Ke kami juga bisa. Nanti silakan datang ke posko untuk kami hubungkan dengan damkar di masing-masing wilayah,” tambahnya.
Khusus untuk bidang pendidikan, gubernur juga memberikan waktu libur kepada siswa di SD selama dua hari ke depan. Hari ini Senin (17/2) sampai Selasa besok (18/2), siswa SD diperkenankan belajar di rumah.
“Untuk siswa SMP dan SMA, besok (hari ini) sudah masuk. Tapi, tidak ada pelajaran normal. Sekolah bisa mengajak siswa-siswanya untuk kerja bakti membersihkan abu vulkanis,” kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi DIJ Kadarmanto Baskara Aji. (eri/hrp/kus)