BANTUL – Lantunan kalimat thayyibah dilafalkan puluhan ribu pentakziyah mengiringi pemakaman pengasuh Pondok Pesantren Al Munawir Krapyak KH Zainal Abidin Munawwir ke pemakaman keluarga di Sorowajan kemarin siang (16/2). Jenazah sebelumnya disalatkan di Masjid Kompleks Ponpes Al Munawwir.
Prosesi pemakaman diawali sambutan KH Attabik Ali mewakili keluarga. Di susul Wakil Bupati Bantul Sumarno Prs selaku perwakilan masyarakat. Ada pula wakil dari alumnus PP Al Munawwir.
KH Zainal Abidin Munawir meninggal Sabtu (15/2) sekitar pukul 18.30 dengan usia 85 tahun. Dia mengalami sakit tua sejak lama. Seminggu sebelumnya almarhum sempat menjalani perawatan di RSUP Dr Sardjito Jogjakarta selama beberapa hari. Dia pulang pada Senin lalu.
Figur yang akrab disapa Mbah Kiai Zainal itu merupakan putra pendiri PP Al-Munawwir yakni KH M Moenawwir. Almarhum meninggalkan seorang istri, Hj Ida Fatimah, dan tiga putra. Mereka adalah Muhammad Munawwir, Muhammad Khoiruzzad, dan Khumairoh.
“Salah satu wasiatnya minta dimakamkan di Makam Sorowajan dan keluarga diminta untuk melanjutkan perjuangannya mengembangkan pondok pesantren ini,” kata Hilmy Muhammad, salah seorang cucu keponakan almarhum.
Sejak disemayamkan Sabtu malam, ribuan pentakziyah bergantian melakukan salat jenazah. Mereka datang dari berbagai daerah. Kebanyakan adalah para santri dan santri alumnus Ponpes Al Munawwir yang pernah belajar ngaji dari almarhum yang akrab mereka sapa dengan Mbah Zaenal itu.
Jumlah pentakziyah semakin banyak siang hingga siang hari menjelang disemayamkan. “Saya pernah ngaji di sini (Ponpes Al Munawwir, Red) beberapa tahun lalu,”kata H Dzanurusyamsi, yang berasal dari Solo.
Bagi Dzanurusyamsi, KH Zaenal Abidin dikenal sebagai kiai yang disiplin. Selama masih sehat, kenang dia, tidak pernah absen menjadi imam salat lima waktu di masjid pondok.
Demikian juga sebagai pendidik. Sang kiai juga dinilai sebagai salah seorang kiai besar yang disegani di kalangan NU. “Beliau sangat disiplin,” jelasnya. (din/amd)