Ada ide kreatif di tengah bencana. Itulah pemikiran yang dimiliki Taufik Noor Aditama. Abu vulkanis Gunung Kelud digunakannya sebagai media seni. Ia berhasil membuat lukisan dengan latar abu dari perut bumi gunung yang terletak di Kediri, Jawa Timur, tersebut.
Dwi Agus, Jogja
Taufik sempat membuat heboh di media social facebook dan twitter melalui aksi kreatifnya. Dia mengapresiasi abu vulkanis di teras rumahnya menjadi lukisan sosok Albert Einstein.
“Ide awal ingin membuat lukisan ini sudah sejak Jumat (14/2) lalu. Tapi karena tersapu saat dibersihkan, akhirnya diurungkan. Ternyata Minggu pagi (16/2), teras rumah ada abu lagi. Langsung saya mencari ide sosok inspiratif di internet dan diaplikasikan ke abu ini,” kata Taufik saat ditemui di rumahnya Jalan Braja Jaya, Condongcatur, Depok, Sleman, kemarin (17/2).
Namun siapa sangka, aksi yang awalnya hanya iseng ini membuat warga Jogjakarta menjadi bangkit. Dalam goresan lukisan ini tertulis sebuah tagline #akurapopo. Sebuah kalimat sederhana ini ternyata mampu membangkitkan semangat warga Jogjakarta dalam menghadapi bencana sekunder Gunung Kelud ini.
Alhasil, karya Taufik ini ramai diperbincangkan di dunia maya. Bahkan akun milik Taufik baik twitter maupun facebook kebanjiran permintaan pertemanan. Taufik mengungkapkan, aksinya ini memang mengajak warga Jogjakarta bangkit dalam menghadapi bencana.
Lebih rinci Taufik menceritakan, keinginannya ini juga karena hatinya merasa jenuh dan kecewa melihat perilaku korban abu vulkanis. Alumnus Jurusan Teknologi Informatika Universitas Telkom itu melihat selama ini korban hanya bisa mengeluh, dan terpuruk.
“Jenuh karena selama awal kejadian, di media sosial banyak yang mengeluh akan dampaknya. Padahal bencana seperti ini sebaiknya jangan disikapi dengan putus asa. Harus bangkit, baik dengan gotong royong ataupun dengan cara lain yang menginspirasi,” kata pria kelahiran Jogja 10 Maret 1991 ini.
Taufik menambahkan, bencana seperti ini sebaiknya disikapi dengan bijak. Sebagai manusia sudah seharusnya menyesuaikan diri dengan alam. Apapun yang alam berikan itu merupakan sebuah berkah. Berkah ini merupakan anugerah jika melihat suatu objek dari dua sisi.
Apalagi momentum seperti ini, menurut Taufik justru harus disyukuri. Dengan adanya bencana ini, manusia akan lebih mengenal satu sama lain. Dengan melakukan gotong royong, maka bisa saling kumpul, dan bertegur sapa antartetangga.
Bagi alummus SMAN 2 Jogja ini, bencana bisa mendekatkan manusia dengan lingkunannya. Bahkan ia mengaku bisa dekat dengan tetangga di kompleks perumahannya berkat bencana ini.
“Dulu mungkin hanya mengenal tetangga kanan, dan kiri saja, namun sekarang tidak. Hikmahnya bisa menghidupkan suasana guyub rukun. Bahkan tidak ada kelas saat gotong royong, baik pelajar, pegawai ataupun orang yang mempunyai pangkat,” kata Taufik.
Kembali soal lukisan Albert Einstein, Taufik menghabiskan waktu sekitar satu jam. Itu aiawali pukul 10.00 saat dirinya kerja bakti bersama beberapa tetangganya. Ia melihat teras rumah yang penuh abu, maka ide kreatif terbesit di kepala Taufik.
Bermodalkan kunci motor untuk melukis dan kamera guna merekam, Taufik memulai aksinya. Sebelum melukis Einstein, ternyata Taufik mempelajari seluk beluk figur brilian ini. Baginya, Einstein adalah sosok yang luar biasa baik dalam kecerdasan maupun inspirasinya.
Taufik pmengambil salah satu quotes milik Einstein yaitu, There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle. and also Logic will get you from A to Z; imagination will get you everywhere.
“Quote ini sangat kuat karena becerita tentang pentingnya pengalaman dan pelajaran hidup. Menurut Einstein tidak ada keajaiban di hidup ini atau menganggap semua ini sebagai keajaiban. Ada juga harus berani keluar dari zona nyaman berpikir ala logika. Di mana harus berani berimajnasi liar, dan kreatif menikmati hidup,” kata Taufik.
Setelah karyanya selesai, Taufik pun mengunggah hasil lukisannya di media sosial facebook. Awalnya dirinya hanya mentautkan hasil karyanya ini ke teman-teman terdekatnya. Di luar perkiraan banyak warga Jogjakarta pun membagi hasil karya Taufik di dinding pribadi facebook mereka.
Awalnya Taufik sempat ragu saat akan mengunggah di media social. Hal ini karena untuk menghindari anggapan bencana sebagai bahan lawakan. Namun di sisi lain, karya Taufik ditanggapi positif oleh beberapa penghuni dunia maya. Bahkan ponsel milik Taufik sempat error karena tingginya jumlah permintaan pertemanan.
Alhamdulilah ternyata warga Jogjakarta masih memiliki semangat tinggi dalam menghadapi sebuah peristiwa alam. Khususnya juga buat warga di sekitar Gunung Kelud yang merasakan dampak langsung. Lukisan ini hanya bertujuan memotivasi agar semangat untuk hidup,” kata Taufik.
Taufik pada dasarnya tidak memiliki basis ilmu seni, karena keluarganya merupakan pegawai kantoran. Namun semenjak kecil, dirinya sudah gemar melukis berbagai objek. Hobinya ini pun terpaksa berhenti saat duduk di bangku SD.
Memiliki passion yang besar terhadap seni, Taufik pun kembali menghidupkan kembali hobi lamanya. Bahkan saat duduk di bangku kelas 2 SMAN 2 Jogja, Taufik mendapatkan beasiswa ke Australia. Beasiswa ini didapat berkat menang lomba desain grafis pada 2008.
“Anehnya justru ketika kuliah ingin di jurusan elektro, tapi orang tua inginnya kuliah di kedokteran. Justru keterimanya di jurusan Teknik Informatika Universitas Telkom. Ya inilah hidup, harus menikmati pilihan yang telah dipilih,” canda Taufik.
Saat menimba ilmu di Bandung, Taufik tetap berkreasi. Dia membuka usaha fotografi dan desain grafis. Bahkan beberapa karyanya sempat mendapatkan respons dari beberapa artis nasional seperti Rianti Cartwright, penyanyi Endah dan Rhesa, hingga Raisa.
Saat ini Taufik memilih kembali ke Jogjakarta untuk berkarya. Kembalinya Taufik ke Jogjakartamemiliki ide besar dan brilian. Ide sekaligus mimpinya ini adalah memajukan Jogjakarta melalui fotografi dan juga desain grafis.
Beberapa karyanya yang dilukis menggunakan tangan pun sempat dipertontonkan kepada Radar Jogja. Jika dilihat secara kasat mata, lukisan karya Taufik ini lebih mirip karya foto daripada sebuah lukisan. Hal ini karena dirinya memadukan ilmu melukis dengan kemajuan teknologi digitizer tablet.
“Saat di Bandung sudah nyaman karena koneksi kerja sudah jadi. Tapi saya lahir dan besar di Jogjakarta, sehingga sudah kewajiban untuk kembali ke Jogjakarta. Cita-cita bisa membahagaikan orang lain, dan ide Einstein untuk keluar dari zona nyaman itu memang benar,” kata Taufik. (*/kus)