PENTING: Petugas WRC melakukan pembersihan abu untuk menyelamatkan satwa, kemarin.
Pembersihan Kandang Dilakukan Lebih Intensif
PENGASIH – Tak hanya manusia saja yang harus diprioritaskan akan bahaya yang ditimbulkan abu vulkanik Gunung Kelud. Satwa liar yang berada di pusat konservasi Wildlife Rescue Center (WRC) Jogjakarta, juga tak kalah penting. Petugas harus membersihkan abu agar tidak mengganggu kesehatan satwa liar itu.Letusan Gunung Kelud membuat sebagian besar wilayah DIJ tertutup abu vulkanik. Pemerintah pun melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berupaya meminimalisir bahaya yang ditimbulkan abu vulkanik. Sama halnya dengan upaya penyelamatan satwa liar di konservasi WRC Jogjakarta.Humas WRC Jogjakarta Rosalia Setiawati mengatakan, pembersihan kandang satwa harus dilakukan secara intensif. Abu vulkanik yang menyelimuti konservasi cukup tebal. “Pembersihan kandang satwa sebetulnya dilakukan secara rutin setiap hari. Untuk saat ini, pembersihan lebih kami intensifkan agar menjaga kondisi kesehatan satwa dan meminimalkan debu vulkanik yang terhirup. Tidak mungkin kami memberikan masker pada satwa,” kata Rosa (17/2).Pembersihan kandang satwa dilakukan dua kali sehari. Dilakukan di area sekitar kandang. Petugas kebersihan, dokter hewan, dan animal keeper ikut melakukan upaya pembersihan abu vulkanik.”Kami sempat kerepotan, sebab mesin disel untuk nyemprot air sekitar kandang ngadat. Tapi penyiraman tetap harus dilakukan,” katanya.Satwa liar di konservasi WRC memang harus dalam kondisi sehat. Sehingga untuk meminimalisir debu vulkanik yang dapat mengancam satwa berjumlah 200 ekor dari 27 spesies, pihaknya harus intensif menghilangkan abu dari lokasi itu.”Kesehatan satwa juga jadi prioritas. Semoga tidak ada lagi guyuran abu vulkanik sehingga konservasi dan kunjungan di sini bisa normal lagi,” kata dia.Sementara itu Dokter Hewan WRC Dwi Wahyuni mengatakan meski abu vulkanik di konservasi cukup tebal, kondisi satwa dinyatakan sehat. Satwa juga diberi tambahan nutrisi agar kondisi kesehatannya lebih prima. “Prioritas penanganan untuk kesehatan satwa. Apalagi abu vulkanik mengandung zat yang mungkin bisa merusak jaringan kulit dan pernafasan satwa,” jelasnya. (fid/iwa)