Tampung Abu di Parkir GOR Amongrogo
JOGJA – Tak kenal lelah. Tim dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja terus berusaha membersihkan dan mengangkut debu vulkanis dari letusan Gunung Kelud.
Mereka menyusuri setiap jalan protokol di Kota Jogja. BLH menargetkan waktu sekitar sepekan untuk membersihkan adu tersebut. Abu dikumpulkan dalam karung-karung. Lantas karung-karung tersebut diangkut ke tempat penampungan sementara.
“Semua karung berisi adu vulkanis kita angkut. Pengguna jalan baik kendaraan dan pejalan kaki kembali nyaman dan aman,” jelas Kepala BLH Kota Jogja Irfan Susilo kemarin (17/2).
Dia mengatakan, tim BLH terus berusaha mengangkut karung-karung berisi abu yang berada di ruas jalan raya dan setiap persimpangan. Abu berisi abu itu tak hanya dikumpulkan oleh tim BLH. Ada pula abu yang dikumpulkan warga.
Menurutnya, timnya terdiri 125 orang. Dia menilai jumlah personel tersebut sangat terbatas.
“Debu yang dikumpulkan dari hasil gotong royong warga, aparat polisi, TNI, teman-teman komunitas yang ditaruh di pinggir jalan menggunakan karung. Kita akan diangkut secepatnya. Satu minggu ini kita sudah bisa bereskan semua. Mohon warga untuk bersabar karena kami bekerja pagi, siang, sore, dan malam,” terang Irfan.
Irfan meminta maaf kepada warga jika ada pengangkutan sampah yang terlambat. Ini mengingat dua armada pengangkut sampah diperbantukan untuk mengangkut abu vulkanis.
BLH menambah empat truk dan pikap untuk mengakut abu Gunung Kelud dari tepi jalan di Kota Jogja. “Kita akan bersihkan,” jelasnya.
Dari pantauan Radar Jogja kemarin (17/2), terlihat masih banyak karung berisi abu vulkanis Gunung Kelud yang berada di pinggir jalan utama dan perkampungan. Ada pula abu vulkanis yang dikumpulkan dalam kardus dan plastik.
Saat ditanya soal target pengakutan abu yang ada di perkampungan, Irfan mengaku belum bisa memberikan kepastian. Dia berargumen sumber daya manusia di instansinya terbatas.
Pegawai yang ada saat ini difokuskan untuk mengurusi abu yang berada di jalan-jalan utama.
“Untuk abu yang dimasukan karung di perkampungan, kami belum bisa tangani. Kami masih harus menyelesaikan di ruas jalan utama yang menjadi akses semua warga Jogja. Untuk abu di perkampungan kami sudah berkoordinasi dengan kecamatan dan kelurahan untuk penanganannya,” kata dia.
Berat karung berisi abu vulkanis rata-rata 50 kilogram. Dalam sekali pengakutan, sebuah truk mampu membawa sekitar delapan kubik abu vulkanis.
Ia berharap percepatan pemulihan kondisi di jalan-jalan raya bisa segera diselesaikan dengan gotong royong yang melibatkan warga. “Tenaga dari pemkot saja tidak mencukupi jika tanpa adanya bantuan dari masyarakat dan instansi,” jelasnya.
Semua abu vulkanis ditampung di area parkir GOR Amongrogo Jogja. Lokasi itu dipilih bukan sekadar pertimbangan jarak tempuh dan waktu yang dinilai efisien.
Dipilihnya GOR Amongrogo juga untuk menghemat stamina anggota tim BLH. “Coba kalau langsung dibuang ke TPA Piyungan di Bantul, memakan waktu setengah jam lebih untuk berangkat dan pulangnya. Semua setuju termasuk dari BPBD Kota dan Provinsi DIJ untuk dibuang di parkir Amongrogo,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Agus Winarto mengatakan butuh banyak karung untuk menampung abu vulkanis. Dia mengakui instansinya kekurangan karung.
Untuk itu, BPBD sudah mengajukan tambahan karung ke PemprovDIJ. Hingga kini BPBD sudah menyebarkan sekitar lima ribu karung ke masyarakat. Pembagian karung dilakukan melalui gerakan Satu Karung Satu Warga.
“Jumlahnya masih kurang. Kita sudah mengajukan tapi belum mengetahui akan diberi berapa. Kita menunggu pengajuan dari kecamatan,” terang dia. (hrp/amd)