Zaman terus berkembang, kesenian tradisional mulai tersisih. Meski begitu, di Kabupaten Magelang masih ada seniman yang peduli pada kesenian tradisional. Bermodal keahlian kesenian yang diperoleh dari gurunya, Ita Nuryati terus mengembangkannya.ADI DAYA PERDANA, Mungkid Berkembangnya kesenian modern tak menyurutkan niat perempuan berusia 26 tahun ini berkarya. Ia masih mengajarkan kesenian tradisional bagi anak-anak.Hasil karya pengajaran tariannya juga beragam. Di antaranya, tarian bagi laki-laki adalah jathilan. Sementara bagi perempuan, tari lilin, tari abyor, tari angsa, tari kipas, dan tari golek.Selain mendidik murid di SD Negeri Tampingan 2, Kecamatan Tegalrejo, Ita juga tergabung dalam sanggar Wahyu Turonggo Kencono di Dusun Cecelan, Desa Soroyudan, Tegalrejo.Di kelompok kesenian ini, Ita lebih sering menari saat mendapat undangan tampil. Sedangkan latihan tari tradisional di SD Negeri Tampingan 2 sudah diberikan dirinya sejak dua tahun lalu.Awalnya, ia cukup kaget melihat minat murid-murid yang sedemikian besar. “Mungkin, karena sifatnya fun. Menari itu menyenangkan,” ungkap Ita yang sehari-hari jadi guru kelas 1 di sekolah tersebut, baru-baru ini (13/2).Ita sebenarnya memiliki bakat menari. Bakat itu mulai dikembangkan dalam beberapa tahun, khusus mendalami seni tari. Baik tradisi maupun kreasi. Hingga kini, Ibu satu anak ini masih terus berguru pada Kahari, 76, seniman tari senior yang tinggal di Kampung Karang Lor, Rejowinangun Selatan, Kota Magelang.Kahari sendiri adalah bekas murid maestro tari Bagong Kussudiardjo. Kahari juga yang memoles bakat Didik Hadiprayitno yang kemudian menjadi populer dengan nama DidikNini Thowok.Beberapa seniman lainnya juga muncul berkat campur tangan Kahari. “Saya masih harus banyak belajar. Tiap dapat tambahan sedikit ilmu dari beliau (Kahari, Red). Ya itu, yang saya tularkan pada murid-murid,” tutur Ita merendah.Di SD Negeri Tampingan 2, Ita hanya mengajarkan tari-tari tradisi. Dia percaya, gerakan-gerakan seperti ukel-ukel, alusan, sampai kasaran yang merupakan bagian dalam tari tradisi bisa membentuk karakter seseorang menjadi lebih baik. Di antaranya membentuk sifat dan perilaku santun, lemah-lembut, dan jauh dari perangai kasar. “Belum pernah dengar kan, ada penari Gatotkaca Gandrung bikin onar di jalan-jalan atau terminal,” Tanya perempuan kelahiran 31 Desember 1988 ini.Lewat tari Jawa klasik, menurutnya, anak-anak menjadi lebih santun. Nilai lebih yang terkandung pada tarian tradisi, yang tidak akan ditemui pada tari-tari modern. Ita menyebut, umumnya hanya akan memperoleh dua manfaat saat menari kesenian modren. Pertama, kesenangan dan kedua sisi kesehatan. “Kalau bicara nilai moral, tari tradisi lebih bisa diharapkan,” tegasnya.Ia mengaku senang mengajar anak-anak di SDN 2 Tampingan. Ia melihat antusiasme anak-anak belajar seni tari. Meski, tiap kali latihan mereka menggunakan properti seadanya. Untuk menari kuda kepang, misalnya, murid-murid Ita cuma pakai blungkang alias pangkal pelepah pohon kelapa.Mereka menggunakan peralatan sederhana. Alasannya, di tempat itu hanya ada dua kuda kepang. Satu milik Ita, lainnya kepunyaan salah satu muridnya. “Setelah dibelah, jadilah blungkang sebagai properti menari. Seperti anak laki-laki zaman dulu,” urainya.Keterbatasan lain yang terus dipikirkan adalah kostum tari. Seringkali, saat anak didiknya harus tampil pada sebuah acara, Ita harus mencari persewaan pakaian. Meski ada keterbatasan, semangat mentransferkan ilmu tentang seni tari tak surut.Ita terus bergelut dengan seni tari dan pendidikan. “Saya hidup di dua alam. Separuh di dunia pendidikan, sisanya untuk kesenian,” katanya.(*/hes)