BANTUL – Hampir seluruh lini terkena dampak hujan abu vulkanis Gunung Kelud. Termasuk di antaranya sektor budidaya ikan. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mencatat sebanyak 65 ribu lebih ekor benih ikan mati akibat abu vulkanis dengan nilai kerugian materi sekitar Rp 51 juta.Kepala Bidang Budidaya DKP Subiyanto mengatakan, petugas DKP memantau di sejumlah tempat budidaya ikan usai erupsi Gunung Kelud. Hasilnya, hujan abu vulkanik dari gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar pada Jum’at (14/2) lalu berdampak buruk pada sektor budidaya ikan.”Ada juga pembudidaya ikan yang melapor kepada kami,” terang Subiyanto kemarin (18/2).Subiyanto mengaku jumlah matinya puluhan ribu ekor benih ikan dapat bertambah. Itu karena pendataan yang dilakukan DKP secara sampling. DKP memeroleh data tersebut dari hasil sampling terhadap 847 kelompok pembudidaya se-Bantul. “Mayoritas yang mati benih lele dan gurami usia tiga minggu,” urainya.Subiyanto menduga matinya benih ikan tersebut karena pekatnya air kolam. Sebab, kepekatan air kolam lantaran banyaknya abu vulkanis memicu ikan sulit memeroleh oksigen untuk bernafas. Pembudidaya terlambat mengaliri atau mengganti air kolam. “Untuk meminimalisasi dengan mengganti air kolam. Makanya kemudian kami anjurkan kepada mereka,” jelasnya.Petugas Balai Benih Ikan (BBI) Sumberagung, Jetis Budiman menuturkan, saat terjadi hujan abu vulkanis, petugas langsung mengalirkan air kolam. Tujuannya air kolam terjaga kejernihannya. “Krannya kami buka. Saat erupsi Merapi pada 2010 kami juga melakukan hal yang sama. Tidak ada ikan yang mati,” ucapnya.Karena itu, hujan abu vulkanis tidak berpengaruh terhadap puluhan ribu benih ikan di BBI yang telah berusia puluhan tahun tersebut.Budiman menyebutkan, BBI memiliki 27 kolam. Di antaranya berfungsi sebagai penangkaran indukan. Lainnya untuk menampung benih-benih ikan. Selama ini, benih-benih ikan tersebut dibeli para pembudidaya, baik dari Bantul maupun daerah lain. “Banyak jenis ikan yang kami miliki. Ada nila, lele, tombro, dan tawes,” jelasnya. (zam/din)