BERSIHKAN SEKOLAHAN: Murid SMPN 5 Pawitikra Jogja bekerja bakti membersihkan abu vulkanis Gunung Kelud (17/2). Kegiatan belajar mengajar akan mulai aktif kembali hari ini, Rabu (19/2).
JOGJA – Berdasarkan hasil koordinasi yang dilakukan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Jogjakarta bersama gubernur, bupati dan wali kota memutuskan kegiatan belajar di Jogjakarta diaktifkan hari ini, Rabu (19/2). Sejak Senin (17/2) murid SMP dan SMA sederajat se-Jogjakarta tetap masuk sekolah, namun tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Mereka datang ke sekolah sambil membawa alat seadanya dari rumah untuk membersihkan abu vulkanis yang masih mengotori lingkungan sekolah. Ada yang membawa sapu, serok, cetok dan alat kebersihan lain. Murid bersama gurunya bahu-membahu membersihkan lingkungan sekolah.
Jogja merupakan salah satu kota yang terdampak abu vulkanis dari erupsi Gunung Kelud yang terjadi Kamis malam (13/2) pukul 22.50 WIB. Setelah dibawa angin menuju ke arah barat daya, erupsi yang melontarkan material vulkanis hingga ketinggian 17 kilometer ke udara tersebut, abu Gunung Kelud menyelimuti kota-kota yang ada di sebelah barat Blitar dan berjarak ratusan kilometer dari titik letusan.
Dampak erupsi Gunung Kelud pun diyakini banyak pihak lebih hebat dibandingkan erupsi Gunung Merapi pada 2010. Saat itu juga terjadi hujan abu di Jogja, namun ketebalan abu tidak setelal abu akibat hujan abu Gunung Kelud sekarang. Hujan yang didamba warga Jogja bisa menyapu abu vulkanis juga tidak setiap hari turun.
Sebagai kota pendidikan dan pariwisata, Jogja memerlukan lingkungan yang bersih agar suasana belajar dan menikmati objek wisata bisa dilakukan dengan normal. Debu yang beterbangan di sejumlah sekolah menyebabkan murid tak bisa konsentrasi belajar. Pelajar juga terganggu kesehatannya.
Demikian pula dengan objek-objek wisata unggulan di Jogja. Malioboro dilumpuhkan abu vulkanis Kelud. Para pedagang tak mau membuka lapaknya karena tidak adanya pengunjung yang datang untuk menikmati Malioboro seperti biasanya.
Tugu Pal Putih pun mengalami nasib yang sama. Bangunan yang berada di persimpangan Jalan Mangkubumi, Jalan Diponegoro, Jalan AM Sangaji dan Jalan Sudirman tersebut diselimuti abu Kelud. Pengunjung yang biasanya memenuhi kawasan tersebut di malam hari untuk sekadar berfoto-fotoan lenyap.
Keputusan untuk meliburkan pelajar hingga Rabu (19/2) dianggap sebagai keputusan tepat. Daripada pelajar masuk sekolah dan terpapar abu vulkanis dan sakit pernafasannya, lebih baik mereka ada di rumah bersama keluarganya menunggu hingga abu vulkanis Gunung Kelud hilang disapu air. (bhn/iwa)