JOGJA – Teka-teki misteri kerangka manusia yang ditemukan di Dusun Kemloko, Caturharjo Sleman pada Rabu (29/1) lalu terjawab. Tim ahli forensik RSUD Sarjito dan Polda DIJ menyakini jasad/kerangka manusia itu ialah AKP Wiyoko, Kanit Bimas Polsek Umbulharjo yang hilang setahun lalu. Kepastian itu diperoleh setelah tim dokter kedua lembaga itu melakukan outopsi dan pencocokan DNA.”Data ante mortem dan post mortem sama. Sehingga, kami berkesimpulan jasad itu memang AKP Wiyoko,” kata Kabid Dokkes Polda DIJ, AKBP Didiet Setyobudi dalam konferensi pers di Mapolda DIJ kemarin (18/2).Ikut mendampingi Kapala Instalasi Forensik RSUD Sardjito Hendro Widodo; Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Keamanan Negara Ditreskrimum Polda DIJ AKBP Djuhandani Rahardjo Puro; Kabid Humas AKBP Anny Pudjiastuti; Wakapolresta Jogja; istri alm AKP Wiyoko Widiastuti Utami, dan mertua AKP Wiyoko, Jupri Sudarno.Menurut Didiet, tim forensik meneliti berbagai bagian tubuh jasad. Antara lain, DNA, warna tulang, tengkorak, gigi, tinggi tubuh. Untuk memastikan siapa jasad tersebut, tim dokter mengambil sample darah dan DNA putera Wiyoko. “Setelah dicocokkan, ternyata DNA jasad tersebut sama dengan putri almarhum Wiyoko yang bernama Nimas,” tambah Didiet.Didiet menerangkan dari hasil identifikasi dokter, almarhum meninggal karena bagian kepala belakang terkena benturan benda keras. Hal ini sesuai dengan pengakuan pelaku Agus.”Melihat retakannya, kepala korban terkena benda yang keras dengan pukulan frekfensi tinggi. Melihat kordinat retakan, korban tidak mengetahui kalau akan mendapat serangan benda tumpul tersebut,” kata Kapala Instalasi Forensik RSUD Sardjito, Hendro Widodo.Setelah mendapat kepastian jasad itu ialah almarhum Wiyoko. Selanjutnya, Polda DIJ menyerahkan jasad itu ke pihak keluarga. Sesuai permintaan keluarga, jasad Wiyoko akan dimakamkan di Canden, Klaten. “Keluarga sudah musyawarah, almarhum akan dimakamkan di Klaten,” kata Jupri Sudarno, mertua AKP Wiyoko.Diah Widiastuti Utami, istri almarhum AKP Wiyoko menyerahkan sepenuhnya pelaku pembunuhan suaminya kepada kepolisian. Ia berharap pelaki dihukum sesuai perundang-undangan. “Proses hukumnya kami serahkan ke polisi. Biar pengadilan yang memutuskan,” kata Diah.AKBP Djuhandani mengatakan penyidik masih mendalami apakah ada pelaku lain yang terlibat dalam kasus pembunuhan AKP Wiyoko. Sementara, tersangka Agus mengaku pembunuhan itu dilakukan seorang diri. Motifnya ialah ingin menguasai harta korban. Buktinya, uang sebesar Rp 50 juta yang dibawa korban diambil oleh tersangka yang merupakan pecatan anggota TNI Kodam Siliwangi pada 2009 itu. “Oleh tersangka, uang digunakan untuk biaya kelahiran isterinya dan bisnis,” kata Djuhandani. (mar/din)