JOGJA – Kualitas udara di Jogja setelah turunnya hujan abu vulkanik Gunung Kelud dinilai wajar tetapi berisiko. Masyarakat diingatkan untuk tidak banyak melakukan kegiatan di luar rumah. Jika terpaksa, sebaiknya menggunakan masker dan kacamata.Kabid Pengendali Penyakit dan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan DIJ Daryanto Chadorie mengatakan, pada pada 15 dan 16 Februari lalu, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit (BBPTK PP) memantau kualitas air dan udara debu di DIJ. Pemantauan dilakukan di sembilan titik di DIJ.Yakni, di Simpang Tiga Prambanan, Bandara Adisutjipto, Ringroad Maguwoharjo, Jalan Kaliurang, Jalan Monjali, Jalan Magelang, Jalan Godean dan lainnya. Selama dua hari itu diketahui bahwa kandungan nitrogen dioksida (NO2) 10,03 mik/m3, sementara nilai ambang batas (NAB) adalah 400 mik/m3. Kemudian Sulfur Dioksida (SO2) 9,76 mik/m3, Ozon (O3) 17,83 mik/m3 sementara NAB-nya adalah 235 mik/m3.Lalu, PH abu vulkanik mencapai 4,5 yang artinya asam. Jadi jika ada abu, segera dibersihkan. Terutama di benda- benda yang terbuat dari logam. Selanjutnya suhu 25 C dan kelembapan 76 persen.Yang paling parah adalah debu, yakni 1.949,15 mik/m3 sementara NAB-nya adalah 230 mik/24 jam sesuai dengan Keputusan Gubernur DIJ Nomor 153/2002. Kandungan selenium yang terdapat dalam abu melebih ambang batas yakni 0,029 mik/m3/. Di dalamnya juga terdapat unsur silika yang berbahaya terhadap mata dan kulit karena menyebabkan iritasi dan gatal- gatal.Konsentrasi debu yang tinggi didapatkan dari hasil pengukuran pada waktu jam puncak. Sementara kondisi riil di lapangan saat ini, konsentrasi debu berangsur sudah mulai menurun apalagi dengan turunnya hujan tiga hari lalu. “Masyarakat tidak perlu panik menyikapi hasil pengukuran tersebut,” tambahnya.Dia mengatakan, kualitas udara akan kembali normal tergantung cuaca dan arah angin. Jika bisa hujan selama dua atau tiga hari berturut-turut, udara bisa normal. “Masalahnya hujan belum turun-turun. Waspadai batuk, terutama buat yang memiliki asma,” kata dia.Dalam waktu dekat, Dinkes dan BBTKL PP akan melaksanakan pengujian terhadap 250 sumur gali milik warga di DIJ yang terdampak abu vulkanik Gunung Kelud. Selanjutnya, akan dilakukan penjernihan. “Kalau tidak ada halangan akan dilaksanakan masing-masing kabupaten/kota sebanyak 50 sumur gali,” sambungnya.Di sisi lain, Daryanto menyampaikan pasien infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) atau gangguan saluran pernafasan di DIJ meningkat pasca hujan abu vulkanis jumat lalu (14/2). Laporan yang sudah masuk ke Dinkes DIJ berasal dari pusat pelayanan kesehatan (pusyankes) di Kota Jogja, pasien ISPA sebanyak 289 orang, iritasi mata (37), kecelakaan (6), urtikaria (4), PPOK (5), bronkhitis (5), paringhitis (41), alergi (1), diare (6), dan dermatitis kontak (1).Sementara di Bantul pasien ISPA 32 orang dan iritasi 1 orang. “Sejauh ini terkendali karena pusyankes cukup memberikan layanan baik dari segi SDM maupun logistik,” jelasnya.Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Fita Yulia mengakui banyaknya pasien ISPA. Tetapi, sampai saat ini belum ada pasien yang dirawat inap di rumah sakit di Kota Jogja. Dia juga perlu melakukan kajian untuk menentukan lebih lanjut apakah sakit mereka karena abu vulkanik Gunung Kelud atau faktor lain.”Memang ISPA melonjak dibanding hari biasa. Tetapi tidak hanya ISPA yang melonjak, farangtritis, diare, asma, alergi kulit, dan dermatitis juga,” terang Yulia usai melakukan pemantauan di RS Jogja kemarin (18/2).Fita menyebutkan, pada kondisi normal penyakit ISPA juga tinggi, tetapi pihaknya tetap akan melakukan kajian lebih lanjut. Selain itu untuk stok obat, pihaknya tidak mengalami kekurangan termasuk ketersedian masker. Hingga saat ini 200.000 masker sudah didistribusikan ke seluruh warga agar dikenakan saat melakukan aktivitas di luar rumah.”Penyakit karena debu vulkanik Gunung Kelud seharusnya diimbangi dengan minum air putih yang banyak,” saran Yulia.Direktur RS Jogja Tuty Setyowati mengungkapkan, pihaknya sudah menerima 71 pasien penderita ISPA dan asma. “Kami akan segera lakukan tindakan secepatnya. Semua pasien sampai saat ini tidak ada yang dirawat inap,” Tuty.Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti usai peninjauan di RS Jogja meminta, rumah sakit dan puskesmas memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Pelayanan harus terus berjalan meski sempat terhambat akibat debu vulkanik Gunung Kelud yang menelimuti seluruh DIJ.”Saya harap rumah sakit dan puskesmas dijaga kebersihannya. Dari pantauan saya ke sini masih banyak debu yang menempel. Dengan gerakan gotong royong dapat meringankan kerja bakti tersebut,” pinta Haryadi. (hed/hrp/abd)