MUNGKID – Jenazah Guru Besar Fakultas Filsafat UGM Jogjakarta Prof Dr H Damardjati Supadjar dimakamkan di tempat kelahirannya di makam keluarga Yosodipuro Dusun Wates, Losari, Grabag, Kabupaten Magelang, kemarin (18/2). Ratusan orang terdiri atas keluarga, sejumlah pejabat, warga sekitar, dan TNI-Polri mengiringi prosesi pemakaman.Sebelum meninggal, almarhum yang lahir pada 30 Maret 1940. diketahui menderita sakit stroke selama tiga bulan terakhir. Dia wafat di kediamannya di Saren, Ngaglik, Sleman pada Selasa (17/2) pukul 17.05 dalam usia 74 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Sri Winarti, lima orang anak, dan satu orang cucu.Beberapa pejabat terlihat ikut dalam prosesi pemakaman Damardjati kemarin. Di antaranya Bupati Magelang Zaenal Arifin dan Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin, Ketua DPRD Kabupaten Magelang Saryan Adi Yanto, dan Kapolres Magelang AKBP Murbani Budi Pitono.Bupati Magelang Zaenal Arifin mengaku kehilangan sosok Damardjati. Bupati yang sering disapa Ipin itu menilai, almarhum merupakan salah satu tauladan dan guru bangsa. “Semoga ketauladanan beliau bisa terus ada pada diri kita semua,” kata bupati.Dia menambahkan, Damardjati dikenal juga sebagai peletak dasar filsafat Jawa yang berbasis pada kearifan lokal. Damardjati berjasa dalam meletakkan pendidikan filsafat yang sebenarnya, yakni berbasis pada kearifan lokal. Bupati menyatakan, almarhum telah membuktikan bahwa falsafah Pancasila bersumber dari kearifan lokal masyarakat Indonesia secara ilmiah.”Almarhum sebagai salah satu negarawan yang dengan sepenuh hati mengorbankan harta dan waktunya untuk memahami Pancasila. Dia menerjemahkan satu per satu nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.Mantan Bupati Magelang Singgih Sanyoto menuturkan, jenazah kakaknya dimakamkan di sekitar rumah keluarga. Itu karena sebelumnya almarhum pernah meminta, jjika meninggal supaya dimakamkan di Desa Losari. “Sesuai permintaan beliau. Saya juga siap untuk merawat makamnya,” tutur Singgih yang merupakan adik kandung Damardjati.Mantan bupati Magelang dua periode ini mengaku, dua minggu lalu kakaknya sempat berkunjung ke Losari. Waktu itu sempat ada perbincangan dengan keluarga. Tetapi apa perbincangan tersebut, Singgih enggan mengungkapkan. Yang pasti inti pembicaraan itu tak mungkin di publikasikan. “Ya ada pembicaraan antarkeluarga,” jelasnya.Menurut Singgih, almarhum merupakan orang yang sangat pintar. Bahkan, kakak kandung nomor tiganya itu sempat berpindah-pidah jurusan saat di perguruan tinggi.Dia mengingat, kakaknya sempat pindah jurusan kuliah untuk mencapai ilmu yang diinginkannya. “Sekolahnya loncat-loncat. Banyak ilmunya dan pintar dia,” kenangnya.Sebelum dikebumikan di Grabag, jenazah Damardjati disemayamkan di Balairung UGM pagi kemarin. Sejumlah sivitas akademika menghadiri upacara pelepasan Damardjati. Hadir juga sejumlah tokoh seperti budayawan Emha Ainun Najib, GBPH Yudhaningrat, dan GBPH Prabukusumo.Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Najib, yang merupakan sahabat karib almarhum menceritakan, Damardjati merupakan sosok yang dianugerahi penglihatan dan pendengaran yang tidak biasa. Almarhum mampu melihat yang tidak bisa dilihat mata awam dan bisa mendengar yang tidak bisa didengar orang lain.”Beliau adalah orang yang memakai Islam sebagai mata pandang meneropong Jawa dan Indonesia. Meski dalam banyak hal kami mengalami ketidakcocokan, kami sangat dekat,” kata Cak Nun.Rektor UGM Prof Dr Pratikno mengatakan, sepanjang hidupnya, Damardjati memiliki komitmen pada UGM dan Indonesia. Sebagai seorang akademisi, Damardjati merupakan ilmuwan yang andal, pendidik inspiratif dengan kesederhanaannya. “Sebagai seorang akademisi, beliau bahkan menginisiasi dan memperkenalkan metodologi analisis filsafat yang tidak biasa,” kata Pratikno.Dalam berfilsafat, lanjutnya, kekhasan Damardjati tidak hanya logika, tapi juga rasa, berperan dalam analisis tersebut. Sosok Damardjati, kata Pratikno, juga berjasa karena kembali mengingatkan bangsa Indonesia untuk kembali pada ideologi Pancasila. Di kala Pancasila mengalami krisis, Damardjati bersama rekan-rekannya membidangi lahirnya Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM pada 1996.Wakil Dekan Fakultas Filsafat UGM Mustofa Anshori Lidinillah mengatakan, Damardjati dikenal sebagai sosok yang ramah, murah senyum dan tenang. Setiap kata yang dilontarkannya berbobot karena memiliki makna dalam.Menurut Mustofa, semasa hidupnya Damardjati menjadi manusia “nyaris”. Ini karena pada semester akhir pendidikan tingginya, almarhum nyaris menjadi sarjana psikologi. “Namun ia berbelok menjadi sarjana filsafat. Saat menempuh pendidikan filsafatnya pun nyaris di drop out,” jelasnya.Dengan wafatnya Damardjati Supadjar, bagi keluarga besar UGM, mereka kembali kehilangan cendekiawan terbaiknya di bulan ini. Sebelumnya, beberapa hari lalu Pakar Hukum Tata Negara UGM, Fajrul Falaakh berpulang. (ady/bhn/iwa)